Awal-awal Agama Mengenal ALLAH

Rasulullah SAW berjuang selama tiga belas tahun di Makkah. Itulah masa Rasulullah berdakwah dan menghimpun para pengikutnya. mula-mula secara sembunyi-sembunyi dan kemudian secara terang-terangan. Dalam masa tiga belas tahun itu, Rasulullah hanya ‘membawa Tuhan’ kepada para Sahabat dan memperkenalkan para Sahabat kepada Tuhan. Dalam majelis yang resmi atau tidak resmi, dalam keramaian, apabila sedang berjalan-jalan dengan para Sahabat, bahkan di setiap waktu Rasulullah menceritakan tentang Allah dan hari Akhirat. Tentang kebesaran, kesucian dan kekuasaan-Nya. Tentang kasih sayang dan keampunan-Nya. Tentang kuasa dan iradah-Nya dan tentang segala sifat yang ada pada Tuhan. Segala sifat-sifat Allah itu sangat-sangat dihayati oleh para Sahabat hingga mereka menjadi amat kenal dengan Tuhan. Bukan sekedar tahu, tetapi sangat kenal. Mereka menjadi orang-orang yang arifbillah. Hati-hati mereka sangat dekat dengan Tuhan, sangat sensitif dan peka dengan Tuhan. Mereka sangat menghayati kebesaran dan keagungan Tuhan.

Akhirnya jadilah para Sahabat orang-orang yang sangat cinta dan takut kepada Tuhan. Dalam hidup mereka, Allah lah yang menjadi perhatian utama. Allah lah yang bertakhta di hati-hati mereka. Banyak di kalangan Sahabat yang menjadi begitu takut dan rindu pada Tuhan dan karenanya hanya Tuhan yang memenuhi fikiran dan perasaan mereka. Perasaan takut dan cinta ini sangat kuat dan mendalam hingga adakalanya hati-hati para Sahabat tidak dapat menanggung bebannya. Ada Sahabat yang langsung mati ketika mengingat kebesaran Allah. Ada yang mati ketika ada orang menyebut nama Allah. Sementara yang jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri lebih banyak lagi. Bila disebut nama Allah, gementar hati-hati mereka. Namun dengan hati yang begitu tergila-gila dan rindu pada Tuhan, mereka tidak mempunyai jalan atau cara untuk melepaskan perasaan mereka. Mereka tidak ada cara untuk berhubungan atau berinteraksi dengan Tuhan. Maka terpaksa mereka menanggung dan memendam rasa cinta dan rindu itu. Mereka seolah-olah orang yang begitu dahaga tetapi tidak mendapat air untuk diminum. Mereka seperti orang yang sangat kelaparan tetapi tidak ada apa-apa untuk dimakan.

Mereka seperti orang yang sangat merindukan Kekasih Agungnya tetapi tidak dapat bertemu untuk memuji-muji dan meluahkan segala perasaan yang terpendam dan tercetus di hati. Allah biarkan saja mereka jadi begitu. Hanya pada tahun yang kesebelas, baru berlaku peristiwa Isra' Mi'raj. Jadi, baru pada tahun kesebelas datang
perintah shalat. Itulah satu hadiah yang sangat besar yang Allah kurniakan kepada para Sahabat supaya mereka dapat berinteraksi dan berhubung dengan-Nya. Supaya mereka dapat melepaskan segala perasaan rindu yang selama ini mereka tanggung. Supaya mereka dapat mengadu, berbicara, berbisik-bisik dan meminta-minta kepada Tuhan. Supaya mereka dapat meluahkan segala isi hati mereka dan bermanja-manja dengan Tuhan. Sungguh shalat itu suatu karunia yang amat besar bagi para Sahabat. Ia ibarat air di kala dahaga. Ia ibarat makanan di kala lapar. Ia ibarat pertemuan dengan kekasih yang sangat dirindukan.

Shalat menjadi buah hati Rasulullah dan para Sahabat. Shalat adalah istirahat/relaksasi bagi mereka. Rasulullah SAW pernah bersabda:

Maksudnya: “Shalat adalah penyejuk mataku.”

Baginda juga pernah menyuruh Sayidina Bilal r.a. untuk azan dengan berkata:

“Wahai Bilal, berilah istirahat kepada kita semua!”

Demikianlah kedudukan shalat di hati Rasul dan para Sahabat. Tidak heranlah mereka tenggelam di dalam shalat. Mereka ‘mi'raj’ di dalam shalat. Tidak heran juga, ketika shalat,mereka lupa tentang dunia ini dan segala isinya baik yang berupa nikmat maupun kesusahan. Mereka asyik dan masyuk dengan Tuhan dalam shalat. Sayidina Ali k.w. lantaran khusyuknya di dalam shalat, tidak terasa apa-apa ketika dicabut anak panah dari betisnya. Shalat mereka yang sebeginilah yang telah menjadikan mereka pribadi-pribadi agung. Agung keimanan mereka. Agung keyakinan mereka dan agung akhlak mereka. Allah kurniakan kepada mereka 3/4 dunia dan semua bangsa bernaung di bawah kekuasaan mereka. Mereka membawa kedamaian dan keselamatan. Mereka penuhi dunia ini dengan keadilan dan kebahagiaan. Di sini kita sungguh-sungguh dapat melihat konsep pendidikan Rasulullah, yaitu awaludin ma'rifatullah. Awal-awal
agama mengenal Allah.

Para Sahabat dikenalkan kepada Allah hingga mereka menjadi orang-orang yang arifbillah, yaitu orang-orang yang sangat takut, cinta dan rindu kepada Allah dan orang-orang yang mabuk cinta dengan Allah. Dalam keadaan begitulah baru mereka diperintahkan untuk shalat dan menegakkan syariat Allah. Keseluruhan perintah syariat yang beribu-ribu itu diturunkan di Madinah. Ia hanya memakan waktu 10 tahun,
dibanding memperkenalkan Tuhan yang esa itu, yang memakan waktu 13 tahun di Makkah. Orang-orang yang menegakkan syariat Allah di Madinah itu sebenarnya ialah orang-orang yang sudah teramat takut dan cinta pada Tuhan. Orang-orang yang arifbillah. Hanya orang-orang seperti ini sahaja yang mampu menegakkan syariat Allah. Yang mampu memperjuangkan agama Allah. Yang mampu berkorban ke jalan Allah. Itulah kelemahan umat Islam hari ini. Sekedar tahu tentang Tuhan. Sekedar ada ilmu tentang Tuhan. Sekedar alimbillah. Tuhan masih di akal saja, belum di hati. Belum ada rasa bertuhan.


Belum ada rasa kehambaan. Jauh sekali dari memiliki rasa takut, rindu dan cinta pada Tuhan. Lebih-lebih lagi, belum mabuk cinta dengan Tuhan. Dalam kondisi begini, mereka disodok dengan shalat dan syariat. Disuruh dirikan shalat. Disuruh tegakkan syariat. Diperkenalkan hukum hudud dan sebagainya.

Orang yang belum kenal Tuhan dan orang yang belum memiliki rasa takut dan cinta pada Tuhan, mereka tidak akan mampu mendirikan shalat dan menegakkan syariat. Kalau pun mereka melakukannya, ia dilakukan secara terpaksa. Melakukan kerja secara terpaksa memang pahit, sakit dan perih. Sulit untuk istiqomah. Kenapa kita tidak membawa Tuhan kepada mereka? Kenapa tidak kitauperkenalkan Tuhan kepada mereka? Kalau manusia betul-betul kenal Tuhan, mereka tidak akan dapat mengelak diri dari jatuh cinta dan rindu kepada-Nya. Mereka tidak akan dapat mengelak diri dari mau berbakti kepada-Nya untuk merebut cinta dan kasih sayang-Nya. Bagaimana bisa kita tidak sayang dan tidak jatuh hati kepada Allah yang begitu berbakti, begitu menjaga, begitu mengawasi dan memenuhi segala keinginan dan keperluan kita. Yang penuh kasih dan belas kasihan kepada kita. Yang menyayangi kita lebih dari ibu kita sendiri. Yang menjaga kita siang dan malam tanpa istirahat dan tanpa tidur. Yang tidak pernah melupakan kita.

Marilah kita kembalikan manusia kepada Tuhan. Marila kita perkenalkan Tuhan itu kepada manusia supaya manusia kenal akan Tuhan. Karena awal-awal agama adalah mengenal Tuhan. Selagi kita belum kenal Tuhan, selagi itu kita belum mampu untuk beragama atau untuk menegakkan agama. Mengenal Tuhan itu tidak cukup sekedar tahu tentang Tuhan atau tahu tentang sifat-sifat Tuhan secara ilmunya, tetapi bagaimana merasakannya di hati. Hati mendapat rasa bertuhan, hati merasa Tuhan sentiasa melihat, hati merasa Tuhan itu Maha Mendengar, hati merasakan Tuhan itu berkuasa berbuat apa saja kepada hamba-Nya, hati merasakan Tuhan itu pengasih dan penyayang, yang sentiasa mencurahkan rezeki kepada hamba-Nya.

Setelah hati memiliki rasa bertuhan, secara otomatis hati akan dipenuhi rasa kehambaan, yaitu rasa lemah, rasa berdosa, rasa bergantung mengharap kepada-Nya. Hati merasa takut dan cinta pada Tuhan sepertimana yang dirasakan oleh para Sahabat yang dididik oleh Rasulullah lebih 1400 tahun yang lalu.

Dosa-dosa Besar Yang Tidak Disadari

Terima kasih Tuhan, karena dengan rahmatMu banyak peringatan-peringatan yang Engau beri untuk kami agar kami membaiki diri. Kami rasa ini satu hadiah yang besar dari Engkau. Selawat dan salam kepada junjungan besar Nabi Muhamad RSAW, karena engkau ya Rasulullah kami dapat meneruskan kuliah kali ini. Moga-moga kami pandai bersyukur dan dapat membanyakkan selawat kepada nabi kami.

Karena ilmu kita tidak banyak, tidak halus, banyak kesalahan yang kita tak tahu, banyak ilmu yang seni-seni yang kita tidak paham. Kita telah buat kesalahan tanpa kita sadari. Kita telah buat dosa-dosa besar tapi tidak tahu. Kita banyak buat kesalahan dengan Tuhan tapi tidak sadar. Jadi yang kurang pada kita ialah ilmu-ilmu seni. Bila ilmu-ilmu seni itu kita tidak paham, pada saya, pada orang lain saya tidak tahu, makin banyak kita ibadah makin banyak kita tertipu. Makin kita mau menjadi orang baik malah menjadi tidak baik. Makin banyak kita beribadah makin jahat kita dengan Tuhan, karena ilmu kita tidak dapat menyuluh diri kita, sebab ilmu Tuhan itu sangat seni. Sangat tersirat.

Sebenarnya ilmu yang seni-seni, ilmu yang tersirat itu yang dapat mengobati hati. Ilmu lain tidak dapat mengobati, kadang-kadang dia menipu kita, ilmu lahir tidak terasa apa-apa. Bila tidak terasa apa-apa, makin banyak kita berbuat, kita sudah merasa luar biasa, kita kurang ajar dengan Tuhan, kita sudah rasa paling hebat. Ini adalah suatu dosa dengan Tuhan tapi kita tidak sadar, kita sudah tidak takut dengan Tuhan. Sedangkan itu kesalahan besar dan dosa besar. Jadi kalau ilmu kita tidak seni, makin berbuat baik jadi semakin tidak baik. Inikan aneh didengar, kalau orang tidak pernah dengar ilmu ini, tentu dia pikir ini ajaran sesat. Sebenarnya dosa-dosa besar ada 2 bagian:

1. Dosa-dosa yang lahir
2. Dosa-dosa yang batin


Orang yang beragama, yang mau juga pada Islam, kalau ilmunya tidak seni, tidak halus, ilmu yang tersirat tidak tercungkil, dia tidak terjebak dengan dosa-dosa besar lahir (yang nampak oleh mata lahir). Sebab dia mau beragama juga, yang lahir ini mudah dikesan. Tapi orang ini akan terjebak dengan dosa-dosa besar yang batin.

Bagi yang jenis tidak pikir agama, dosa-dosa besar yang lahir pun dia tidak ambil perhatian apa lagi yang batin.

Bagi orang yang sedikit ingin beragama insyaAllah dosa-dosa lahir dia tidak buat seperti zina, mencuri, minum arak, judi, menipu...itu semua dosa-dosa besar dia tidak buat. Dia tidak akan berzina, melacur. Nah disitu dia akan tertipu diri "Aku tidak buat dosa besar, berarti bersih aku ini!" Dia merasa baik. Makin baik lahirnya yang dalam makin jahat. Makin cantik di luar makin buruk di dalam. Makin bercahaya yang lahir, yang dalam makin gelap.

Sebab itu para sahabat salafusoleh dan orang-orang yang bertaqwa bukan takut dengan dosa-dosa besar yang lahir tapi yang ditakuti ialah dosa-dosa besar yang batin terutama syirik. Dikalangan salafusoleh, para sahabat pernah berkata kalau aku mati dikamar aku ini mati sebagai orang beriman, sedangkan kalau aku pergi ke tangga rumah ini mati syahid, itu besarlah. Saya mau mati di bilik saja, kenapa? Padahal jarak bilik dengan tangga itu 2-3 meter saja, dia takut jalan dari bilik ke tangga dia jadi syirik. Apa maksudnya?

Begitulah orang bertaqwa bimbangnya dengan syirik, bimbang dengan Tuhan. Dengan jarak 2-3 meter dia tidak yakin dirinya selamat dari syirik walaupun di tangga dijanjikan mati syahid. Tidak apa-apa yang penting aku dapat mati beriman cukuplah. Kalau masuk neraka tidak kekal, daripada mengharapkan mati syahid tapi dapat mati kafir. Begitulah hati orang beriman, adakah hati kita macam itu? Hati orang mukmin bergolak, tidak tahu nasib aku seperti apa. Dari saat ke saat dia takut, tidak tahu bagaimana nasibnya.

Bagi orang beragama, memang dia tidak buat dosa-dosa besar yang lahir. Kalau ilmu dia tidak halus, di situ dia akan rusak, dia akan berbuat dosa besar yang batin. Bila orang memuji, hati berbunga, itu dosa besar. Terpikirkah itu dosa besar? Itu yang saya maksudkan dia akan menipu kita, karena disebabkan kita tak buat dosa besar yang lahir itu jadi dia menipu kita.

Dalam pengalaman kita orang yang beribadah kuat, kalau kita tegur dia akan jawab "Saya tidak buat salah. Tidak, saya tidak berbuat itu!" Kenapa? Karena dia tidak nampak di dalam, di luar ok. Kalau dilihat, kebaikan yang diluar menipu diri. Kebaikan yang diluar merusakkan batinnya. Cahaya yang terang di luar menggelapkan dalam. Bila kita berhasil dalam ibadah, kita merasa luar biasa dan ujub, itu dosa besar, terpikirkah itu dosa besar? Tidak! itu berlalu begitu saja padahal kita sudah melakukan dosa besar.

Contoh lain, terlintas dalam fikiran "Kalau aku berjuang/berdakwah, bagaimana mau makan, anak banyak, isteri banyak?" Dosa ini lebih besar daripada contoh yang awal tadi, sebab ini sudah masuk kawasan syirik, merusakkan akidah. Terpikirkah kita, pikiran seperti itu sudah merusakkan akidah? Sebab itu dosa batin, yang susah dikesan oleh orang biasa.

Bagi orang yang ingin mengikuti Tuhan, dosa lahir itu seperti mendengar suara gajah. Dari jauh sudah terdengar, gedebuk-gedebuk suara gajah, jadi mudah untuk mengelak.

Tapi dosa batin seperti bunyi semut, tidak terdengar, tidak ada. Bila tidak ada maka tidak rasa bahaya. Bila gajah berjalan, semut berjalan dan sama-sama berbunyi. Tapi gajah mudah dikesan kesak kesuk kesak kesuk, kalau semut berjalan di tepi telinga kita pun tidak dengar. Kita sudah buat dosa besar tapi karena kita tidak paham, jadi kita berkata kita tidak buat.

Jadi banyak orang yang buat dosa besar batin. Untuk orang yang ingin beragama tapi ilmunya tidak ada, tidak halus maka dia akan banyak buat dosa besar batin. Seperti orang lain dapat kesenangan, terdetik hati kita merasa tidak senang, itu dosa....mana kita terfikir itu dosa? Kalau orang dapat kesusahan, kita tidak merasa susah, itu dosa...terpikirkah kita itu dosa? Bagaimana bisa orang susah kita tidak rasa susah, dimana perikemanusiaan kita? Itu tanda hatinya sudah bangkrut, tidak susah dengan kesusahan orang.

Pernahkah kita menungkan, "Eh, aku ini banyak dosa sebab aku tidak terasa susah dengan kesusahan orang lain." Tapi kalau minum arak "Astaghfirullah hal `azim aku telah minum arak". Setahun dia dapat ingat. Atau kalau berzina setahun dia akan ingat. Main di otak, tidak tenang.

Tapi tidak merasa susah dengan kesusahan orang, adakah bermain-main di otak? Tidak! Dia berada dalam keadaan leluasa tidak berasa berdosa dengan Tuhan. Jelas tidak ilmunya? Sebab itu kalau ilmu tidak halus, tidak seni, banyak ilmu tersirat kita tidak tahu maka banyak dosa-dosa batin kita buat tanpa disadari.

Ilmu-ilmu tersirat, ilmu-ilmu seni itulah ilmu tasawuf, itulah ilmu rohani. Banyak dosa-dosa batin yang kita buat tidak tahu. Lebih-lebih lagi sembahyang banyak, ibadah banyak, wirid zikir banyak, kerja-kerja umrah/haji sudah banyak tetapi tidak takut dengan Tuhan, sebab ditutup oleh kebaikan lahir tadi. Itu satu kejahatan paling besar. Sebab telah mencabut rasa kehambaan. Rasa kehambaan itulah yang Tuhan inginkan. Bila dicabut rasa kehambaan dia tidak nampak dosa besar. Bila rasa kehambaan tercabut datanglah rasa ketuanan, bila dibiarkan dia akan datang rasa keTuhanan. Musnah akidah dia, tidak bahaya kah?

Kadang-kadang orang yang lalai dengan Islam, sekejap sembahyang sekejap tidak sembahyang, sekejap puasa sekejap tidak puasa, tapi dia rasa bersalah. Dia sadar dia salah. Itu lebih selamat daripada orang yang jaga yang lahir, ibadah yang banyak dalam hati buat jahat, tidak merasa takut lagi. Yang tadi masih merasa takut lagi, dalam buat jahat dia merasa takut, rasa kehambaan masih kekal. Yang ini dia banyak buat secara luaran tidak merasa takut. Sebab di sisi Tuhan orang yang buat dosa terasa berdosa itu yang selamat. Orang berdosa rasa tak berdosa, itu yang rosak! Rasa berdosa, rasa bersalah, rasa kehambaan itulah yang Tuhan inginkan.

Kalau kita ambil yang lahir saja mungkin banyak ibadah yang makin rusak sebab dia tidak nampak kesalahan dirinya. Sebab itu orang zaman dulu, kalau ada orang tanya tentang hukum hakam kalau mau jaga hati dia akan berkata kalau langsung menjawab mungkin nanti ada rasa megah. Kamu pergilah tanya si Ahmad, bila sampai si Ahmad tanyalah si Yusuf, karena mau jaga hati. Dari Yusuf suruh pergi ke Mahmud juga. Akhirnya berputar sampai ke dia lagi karena tidak dapat mengelak dia pun akhirnya menjawab.

Sebab itu orang zaman dulu, kalau sangat ingin berdakwah, dia tidak jadi berdakwah. Waktu dia ingin bersyarah, dia menahan diri, sebab dia pikir jangan-jangan dorongan ini hanya untuk megah, untuk kepentingan diri. Syeikh Abdul Kadir Jailani selepas 30 tahun beribadah, buat itu buat ini, dia berdakwah. Sebab sebelum itu dia tidak berdakwah. Kadang orang bertanya mengapa tuan tidak berdakwah, kadang-kadang dia tidak menjawab sebab dia tahu mengapa dia tidak berdakwah. Setelah 30 tahun baru dia berdakwah, dia sudah jadi orang baik...mungkin mulai dari 30 tahun jadi sekarang sudah 60 tahun. Orang terkejut. Dia berkata "Saya sudah dapat arahan", baru dakwah, ada arahan dari Tuhan, ada bisikan dari pihak Tuhan baru dia berdakwah. Dia berhati-hati. Sebab itu sekali saja dia berdakwah, yang sudah baik terus jadi baik, yang dapat hidayah mendadak baik, yang jahat-jahat bergolak hati. Itu kesannya. Hari ini orang berdakwah tapi tidak ada kesan, mengapa? Sebab hati sangat ingin berdakwah, sangat senang jikamasuk surat kabar lagi seronok, jadi dakwah tidak dapat memberi kesan.

Sheikh Abu Yazid Bustami lepas berdakwah banyak orang sadar, kerajaan tidak senang, maka dibuang.7 tahun dibuang, 7 tahun negara bergolak. Panen gagal, kelaparan, kemarau, kemudian baru orang merasa dan mengadu ke Gabenor, "Tuan, sejak kita buang Yazid, keadaan jadi begini, ini sudah parah, coba bawa pulang Yazid". Dia pun kembali dan masalah selasai. Kesan rasa hati mereka, bergolak negara. Mana ada orang seperti ini sekarang. Masing-masing ingin berdakwah, tidak ada seorang pun masuk Islam, semua orang Islam tidak berubah, dirinya pun tidak berubah. Sebab dia berjuang tapi membawa dosa besar batin, bawa kejahatan batin, diluar bercahaya dalamnya gelap karena ilmunya tak seni, ilmu rohaninya tidak menyuluh batin, dia buat jahat tetapi tidak sadar, dia berdosa pun tidak sadar.

Ini semua faktor ilmu. Kalau ilmu kita tidak banyak, tidak global, tidak seni, makin kita baiki diri yang luar, makin terjun ke Neraka, makin terjun ke maksiat. Makin kita buat kejahatan tanpa kita sadar. Mesti berhati-hatilah, jangan sampai sembahyang, puasa, wirid kita menipu kita. Jangan ibadah kita merusakkan hati kita. Patutnya semakin banyak kita baiki diri semakin merasa bersalah, merasa berdosa, semakin merasa tak berguna, semakin merasa jauh dengan Tuhan. Itulah yang akan menyelamatkan kita.

Maksud Allah Memerintahkan Kita Berpuasa

Al-Quran menyebutkan bahwa tujuan berpuasa adalah untuk menjadi orang bertaqwa. Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 183, artinya:

“ Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagai mana yang diwajibkan ke atas orang-orang sebelum kamu supaya kamu bertaqwa”


Berpuasa rupanya dapat menjadikan seseorang hamba Allah bertaqwa kepada Tuhannya yakni jika Ramadhan dilalui dengan tepat dan penuh penghayatan. Kalau bukan begitu caranya, berpuasa di bulan Ramadhan hanya mendapatkan lapar, dahaga dan letih saja, hanya sia-sia belaka.

Dalam setahun kita telah melalui berbagai-bagai ujian hidup yang dapat merusakkan ketaqwaan kita kepada ALLAH. Bila manusia tidak bertaqwa, mereka akan kehilangan wibawa dan kemanusiaan. Manusia akan menjadi zalim, menindas orang, menipu, mementingkan diri, saling menjatuhkan, hasad dengki, pemarah, takabur, bakhil, pendendam dan lain-lain. Masyarakat tidak lagi berkasih sayang, bekerjasama, bertolak ansur dan saling tolong menolong. Sebaliknya masyarakat akan berebut dunia, krisis, bergaduh dan berperang. Peperangan antara suami isteri, anak dengan ibu bapaknya, murid dengan guru, buruh dengan majikan, rakyat dengan pemimpin dan lain-lain. Manusia hilang kemanusiaan. Manusia tidak berwatak manusia lagi, manusia telah berubah menjadi manusia berwatak syaitan dan hewan.

Allah SWT yang Maha Adil lagi Bijaksana, yang menciptakan manusia, tahu di mana kekuatan dan kelemahan manusia, tahu bagaimana menguatkan yang lemah, menyuburkan yang kuat, tahu sumber kekuatan dan kelemahan, telah memilih bulan Ramadhan untuk menjadi obat kepada penyakit setahun. Berpuasa dan ibadah-ibadah tambahan Ramadhan itu mampu menyelesaikan masalah-masalah selama setahun. Umpama mobil yang lemah setelah setahun digunakan, overhaul (turun mesin) sebulan cukup untuk sehat semula. Ya, Ramadhan datang untuk overhaul manusia supaya mendapatkan kemanusiaan lagi.

Sangat rugi bagi orang-orang yang gagal menjadikan ibadah Ramadhan untuk memperbaiki kemanusiaan mereka. Seperti ruginya orang yang diberi mobil tapi tidak pandai menggunakan atau salah menggunakannya.

Bagaimana Ramadhan Overhaul Hati Manusia?

Terdapat paket ibadah yang cukup hebat dan berkesan, kuat menguatkan satu sama lain, supaya manusia diperbaiki, dipulihkan sepanjang Ramadhan. Allahlah yang mempunyai paket ini. Maha pakar dalam merawat jiwa, fikiran dan fisik manusia supaya kembali suci sesuci fitrah semulanya. Paket itu ialah ibadah puasa, terawih, baca Quran, zikir, tasbih, paling asas atau dasar adalah mujahadah untuk melawan nafsu. Seseorang yang sanggup melakukan keseluruhan paket ibadah ini dengan serius dan penghayatan, sungguh akan memperoleh satu kekuatan roh, mental dan fisik untuk meneruskan perjuangan sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi. Membawa segala sifat-sifat baik seorang manusia seperti merendah diri, pemurah, berkasih-sayang terutama dengan orang miskin dan susah, tawakkal, sabar, tenang, adil, berbaik sangka, sanggup meminta maaf dan memberi maaf, bertolak ansur, jujur, mementingkan orang lain dan lain-lain. Kalau ada manusia yang begini dimuka bumi ini, ketahuilah pada merekalah Allah akan wariskan bumi ini untuk ditadbir atau diatur. Sebab Allah berjanji untuk menutup bumi ini dengan keadilan oleh orang-orang yang mereka itu sangat cinta kepada Allah dan Allah juga cinta kepada mereka.

Bagaimana Ibadah Memproses Ketaqwaan Manusia

Allah menciptakan manusia makhluk yang wajib berusaha dan berikhtiar untuk berhasil dalam apa juga bidangnya. Kejayaan tidak jadi sendiri kepada manusia. Manusia perlu bertarung, berjuang untuk kejayaan besar mereka. Nelayan mengarungi gelombang laut, petani melawan panas terik, ibu bertarung dengan kesusahan dalam melahirkan anak, bapak teruji dalam melakukan tanggung jawab pada keluarga, guru berhadapan dengan murid, pemimpin paling susah berhadapan dengan 1001 jenis kesusahan dalam kepimpinan. Untuk mengalahkan nafsu dan syaitan, Allah mewajibkan peperangan yang paling besar dan dasyat yang tidak dapat dilihat oleh mata karena bersifat rohani dan maknawi. Hanya orang yang mampu terlepas dari halangan-halangan nafsu saja yang layak mendapatkan taqwa. Ketaqwaan adalah gelar atau ukuran paling mulia untuk manusia menjadi sesempurna manusia. Tanpa taqwa, PhD, harta, pangkat tidak menjamin manusia dapat dikembalikan kepada kemuliaan yakni kemanusiaannya. Orang kaya, berpangkat dan berijazah tapi bertuhankan hawa nafsu akan menjadi sejahat-jahat manusia sedangkan dengan taqwa, orang miskin pun menjadi mulia apa lagi kalau orang kaya yang bertaqwa!

Sebab itulah ibadah paling asas dalam paket Ramadhan ialah mujahadah terhadap nafsu. Yakni usaha-usaha memaksa diri sendiri untuk melakukan perintah Allah dan meninggalkan larangannya. Mujahadah ialah sanggup menyiksa diri sendiri dalam usaha untuk menunaikan perintah-perintah Allah karena kebaikan yang diperintahkan bertentangan dengan kehendak nafsu liar dalam diri. Contoh, untuk berkasih sayang seperti yang Allah Taala perintahkan, seseorang sanggup menelan marahnya pada seseorang dengan penuh sabar. Menahan marah dan sabar itu sungguh menyiksa. Orang-orang yang tahu seluk beluknya saja yang dapat melakukannya dengan pertolongan Allah. Mujahadah memang menjemukan, nafsu benci dan meletihkan. Siapa sanggup tersiksa diatas cita-citanya, Hanyalah orang yang berjiwa besar. Sebab apabila letih fisik dapat istirahat, tetapi apabila perang dengan nafsu tidak dapat istirahat. Kalau istirahat nafsu akan manja dan mengada-ngada. Perang yang tidak pernah berhenti inilah dikatakan perang paling berat dan dasyat.

Terdapat tiga kunci yang Allah sediakan untuk mendorong mujahadah ini di Bulan Ramadhan yaitu:
1. Puasa yang dihayati
2. Sembahyang yang khusyuk
3. Baca Quran yang dijiwai

Abdul Muthalib & Sejarah Rasulullah SAW

Rasulullah SAW adalah manusia luar biasa, dia kekasih Tuhan, manusia yang paling dikasihi oleh Tuhan. Karena dialah dunia & akhirat diciptakan. Nabi Muhammad SAW manusia luar biasa, manusia agung, manusia istimewa, sebab itu supaya kita benar2 kenal nabi kita, bukan sekedar kenal, maka kita akan cungkil cerita-cerita tentangnya.

Karena Nabi Muhammad manusia luar biasa tentu sejarah hidupnya luar biasa. Bukan saja sejarah hidup beliau, tapi yang bersangkutan sejarah hidup beliau seperti salasilahnya, keturunannya, sebaiknya kita ambil perhatian, supaya terasa kita bahwa Rasulullah SAW itu besar & agung. Sebab itu Abuya ceritakan, untuk menyulam kuliah-kuliah Abuya sebelum ini tentang bagian dari keturunan Rasulullah SAW yang Tuhan ingatkan kita bersama. Semoga menjadi pengetahuan kita bersama. Abuya akan ceritakan sedikit tentang kakeknya yaitu Abdul Muthalib. Rasulullah SAW ini namanya Muhammad bin Abdulah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Manaf.

Mungkin cerita ini sudah ada pada pengetahuan kita, tapi dilupakan. Yang belum pernah mendengar menjadi satu pengetahuan baru bagi mereka.

Abdul Muthalib ini sebelum ada anak, dia pernah bernazar kepada Tuhan kalau dia dapat 10 anak lelaki dia akan sembelih seorang. Setelah berbelas-belas tahun menikah akhirnya mendapat 10 anak lelaki diantaranya Abu lahab, Sayidina Hamzah, Abu Thalib dan lain-lain. Tapi yang bungsunya Abdullah. Jadi ketika mendapat 10 anak laki-laki, dia pun teringat nazarnya, dia akan tunaikan nazarnya, menyembelih seorang. Ketika mau menyembelih salah satu, semuanya anak2 dia. Dia mengadukan hal ini kepada seorang ahli nujum di zaman itu, bagaimana cara menunaikan nazarnya? Ahli nujum memberi tahu dia, buat undian. siapa yang kena, itulah yang disembelih. Cara orang arab ini, walaupun hidup di zaman jahiliah, janji dipatuhi. Janji itu Abdul Muthalib terpaksa patuhi.

Setelah menerima nasehat dari ahli nujum, dia buat undian di kalangan anak-anaknya. Bila diundi kena kepada Abdullah, sedangkan ia anak yang paling disayangi, anak bungsu. Kemudian dia pergi bertanya lagi pada ahli nujum. Ahli nujum menyuruh mengundi lagi. Maka Abdul Muthalib membuat undian kedua, tapi kena pada Abdullah juga. Mengadu lagi, diundi lagi kena Abdullah lagi. Dia buat undian ke-9, ke-10 masih kena Abdullah. Mengadu lagi dia kepada ahli nujum, undian saya mengena pada anak yang paling saya sayang, yang paling ganteng. Ahli nujum menjawab, kalau begitu engkau menyembelih saja 100 unta untuk mengganti Abdullah. Akhirnya Abdullah selamat.

Demi mengingati pristiwa ini, ketika Rasulullah SAW menjadi rasul, salah satu syariat Rasulullah SAW yaitu siapa membunuh orang, tebusannya menyembelih 100 unta. Jadi ada syariat dalam jahiliah yang dikekalkan oleh Tuhan, diantaranya siapa yang buat dosa membunuh orang, dia mesti menebus dengan menyembelih 100 unta. Kekal sampai hari ini. Selamatlah Abdullah daridisembelih. Diantara 10 anak lelaki ini Abdullah yang paling disayang bapanya Abdul muthalib. Tapi karena Abdullah ini akan melahirkan zuriat yaitu nabi akhir zaman, Tuhan memberi tanda di dahinya keluar cahaya, sejak kanak-kanak lagi. Terutama waktu malam, ketika dia pergi semua orang melihat cahaya di dahi Abdullah, mereka berkata, Abdullah datang, sebab mana ada orang bercahaya di dahi. Tapi tidak ada yang tahu cahaya itu cahaya apa.

Rupanya di kalangan ramai ni ada 1 orang yang tahu. Ada dua pendapat, dia dapat dari mimpi dan ahli nujum. Yang tahu adalah seorang perempuan namanya Fatimah Syam. Dia tahu bahwa orang yang bercahaya di dahi itu akan melahirkan nabi akhir zaman. Maka dia jatuh hati kepada Abdullah. Dia mencoba memikat Abdullah. Kalau dalam bahasa sekarang dia menggaet Abdullah sebab dia tahu dari Abdullah ini akan lahir seorang nabi. dia bujuk, dia rayu dia ajak kawin, tapi Abdullah tidak mau. Akhirnya Abdullah dipinang oleh Siti Aminah dan Abdullah mau. Maka lahirlah dari Abdullah, Muhammad, ibunya Aminah.

Tapi Nabi Muhammad SAW tidak sempat melihat ayahnya. Waktu baru 2 bulan dalam kandungan, Abdullah pergi menziarahi keluarganya, dia meninggal di tengah perjalanan. Ibunya tidak terasa hingga ke 9 bulan, sebab tidak ada tanda atau kesan. Cuma setiap malam mimpi bertemu perempuan2 mulia seperti Siti Asyiah Masyitoh dan lain-lain yang memberitahu dia, Hai Aminah bertuahlah engkau, engkau akan melahirkan anak yang menjadi nabi akhir zaman. Iya kah, aku tidak mengandung kata Aminah. Hampir setiap malam, dia mimpi. Kata-kata itu diulang, Hai Aminah bertuahnya engkau, karena akan melahirkan nabi akhir zaman. Aminah heran, sebab mimpi & realita tidak sama sebab dia fikir dia tidak mengandung. Rupanya ketika 9 bulan lahir anak, pada tanggal 12 rabiul awal tahungajah.

Waktu lahir, dia tidak seperti anak-anak lain lahir, kalau anak-anak lain ibunya merasa sakit, keluar darah. Ini bersih dan bagus.Anak-anak lain ketika keluar menangis, dia tidak menangis.

Selepas Rasulullah SAW menjadi rasul selain perang ada 2 pristiwa yang sangat menakutkan.

Setelah Rasulullah SAW diterima orang banyak, pengaruh Rasulullah SAW sudah mulai ada, kata-kata Rasulullah SAW ada orang yang tidak faham, sebab Rasulullah SAW menyebut akhirat, Tuhan, syurga. Jadi banyak orang marah. Di antara yang marah itu pembesar-pembesar Quraisy. Akhirnya mereka mengambil keputusan, Rasulullah SAW di kurung di Bani Said. Setiap jalan ke Bani Said disekat hingga makanan tidak sampai & tidak dibenarkan siapapun menyampaikan makanan. Kemudian orang arab jahiliah ni membuat satu perjanjian yang ditulis di atas kulit. Selagi perjanjian ini kekal, selama itu Rasulullah SAW di kurung. Perjanjian itu digantung di ka'bah. Kalau ikut logika, tulisan itu kekal sampai mati. Rupanya selepas Rasulullah SAW dikurungkan 3 tahun, tulisan itu dimakan oleh anai-anai. Abuya sudah katakan tadi, orang arab ini walau jahiliah, tapi dia menunaikan janji. Maka dia lepaskan Rasulullah SAW.

Peristiwa ke-2 adalah setelah pengikut Rasulullah besar, ramai, pembesar-pembesar arab berkumpul di Darun Nadwah, satu dewan besar. Mereka berunding bagaimana menghilangkan Rasulullah SAW. Bila dimusyawaratkan akhirnya diambi keputusan di Darun Nadwah itu untuk membunuh Rasulullah SAW. Tapi yang membunuhnya bukan seorang, dibunuh oleh wakil-wakil kaum. Karena mereka berfikir, kalau semua kaum terlibat membunuh, tidak ada keluarga yang menuntut, semua kaum terlibat dalam membunuh.

Tapi kesepakatan ini diketahui oleh Rasulullah SAW. Suatu malam Rasulullah SAW & Sayidina Ali keluar rumah & bermalam di satu rumah. Pada malam itu Rasulullah SAW berpesan pd Sayidina Ali, kamu tidur di tempat saya supaya orang menyangka saya yang tidur disitu, sedangkan semua wakil kaum berada di sekeliling rumah itu.

Saat Sayidina Ali berada di rumah itu, mereka menyangka itu Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW meninggalkan rumah itu. Waktu dia keluar rumah, Rasulullah SAW ambil pasir, dia baca ayat & ditaburkan kepada semuanya sehingga semua tidur senyenyak-nyenyaknya. Ketika mereka terbangun, mereka terkejut, kita semua tidur, jangan-jangan Muhammad sudah pergi. Akhirnya mereka menyerbu ke rumah, tapi yang tidur adalah Sayidina Ali, anak-anak. Maka mereka pun memburu Rasulullah SAW, meninggalkan Sayidina Ali. Di sini satu hikmah, ada benda tersirat.

Yang pertama, melihatkan kepada kita bahwa Sayidina Ali dari budak lagi sudah berani. Kalau anak-anak kita, kalau tahu orang akan bunuh kita, ayahnya berpesan engkau tidur tempat ayah, ayah mau lari, tentu dia mengatakan, tidak mau, saya mau ikut ayah. Tapi bila dipesan Rasulullah SAW, Sayidina Ali tahu orang mau membunuh Rasulullah SAW, dia sanggup menggantikan. Di sini memperlihatkan betapa di waktu kecil Sayidina Ali sudah pemberani.

Yang ke-2, kalau kita tidak pandai mencungkil hikmahnya, kita anggap Rasulullah SAW zalim. Dia mau melepaskan diri, anak-anak yang menggantikan dia. Ini tidak bertanggung jawab. Begitulah ulasan orang yahudi & orang2 Islam yang berpenyakit. Sebenarnya Rasulullah SAW sangat bijak, waktu dua orang berhadapan dengan bahaya, satu orang penting satu kurang penting, tentulah yang tidak penting sanggup berkorban, yang tidak penting dikorbankan. Rasulullah SAW untuk umum, kalau mati Sayidina Ali tidak apa-apa, dia bukan rasul. Ini mengajar umat Islam sepanjang masa, kalau satu perjuangan yang hak, kalau terjadi akan dibunuh seorang, siapa yang penting siapa yang tak penting, kalau mesti mati satu orang, atas dasar strategi, yang tidak penting itu yang dikorbankan. Yang penting mesti diselamatkan karena dia penting untuk manusia. Itu bukan satu sikap yang tidak bertanggung jawab, tapi satu kebijaksanaan.

Bila Rasulullah SAW sudah keluar malam tu. dia sudah berjanji dengan Sayidina Abu Bakar untuk keluar bersama. Kemudian Rasulullah SAW memberitahu Asma, anak Sayidina Abu Bakar, untuk menjadi spy. Mengapa Rasulullah SAW memilih perempuan tidak memilih lelaki? Orang jahiliah tidakkan terfikir yang akan dijadikan spy itu perempuan. Perempuan penakut, tidak akan orang penakut dijadikan spy. Di sini bijaknya Rasulullah SAW, sepatutnya laki-laki jadi spy, tapi perempuan dijadikan spy supaya orang tidak menyangka.

Di sini Rasulullah SAW mengajar kita bahwa dalam satu perjuangan di suatu waktu boleh jadikan perempuan spy, atau boleh menggunakan perempuan untuk menguasai suatu bidang kalau diperlukan. dia bukan terkungkung saja. Di zaman Rasulullah SAW perempuan boleh menjadi spy. Sebab itu di zaman moderen ini, musuh-musuh islam banyak menjadikan kaum ibu menjadi spy supaya kaum ibu dapat memerangkap musuh. Musuh akan diperangkap dengan kaum wanita. Tapi Islam menjadikan perempuan supaya orang tidak terpikir, perempuan menjadi spy atau dia tidak pikir dia perangkap musuh. Tapi orang-orang kafir & yang tidak ikut syariat, dia menggunakan perempuan untuk perangkap musuh, perangkap lelaki. Itulah hikmahnya.

Kalau kita tidak mengulas sejarah, orang akan katakan tidak sepatutnya anak-anak seperti Sayidina Ali menggantikan tempat Rasulullah SAW. Kalau tidak dijadikan Asma sebagai spy, seolah-olah orang Islam yang fanatik dengan agama, perempuan tidak ada peranan. Sebenarnya dalam Islam, dalam di sesuatu bagian perempuan dapat berperanan seperti menjadi spy, tetapi mesti mengikuti syariat Islam.
Sekian.

Imam Abu Hanafiah

Ada riwayat menyatakan bahwa gelaran Abu Hanifah diberikan kepada Imam Hanafi karena ketekunannya beribadah, sesuai dengan perkataan makna hanif yang dalam bahasa arabnya berarti “cenderung” atau “condong” kepada agama yang sebenarnya. Ada juga riwayat menyebut karena kegemarannya menulis hingga beliau dikatakan tidak pernah jauh dengan pena dan tinta. Hanifah menurut lughah Iraq berarti “tinta” atau “dakwat”.

Lain riwayat lagi menyebutkan, gelaran Abu Hanifah adalah berkaitan dengan anak lelakinya yang bernama Hanifah. Abu Hanifah berarti “Bapak Hanifah”.

Menurut riwayat lain juga, ‘Abu Hanifah’ dikatakan berarti ‘kran air’ karena luar biasa kecerdikan dan kepandaian yang dimiliki oleh Imam Hanafi semenjak kecil. Kecerdikannya ibarat kran air, diputar saja keluar airnya (ilmu).

Pengasas Mazhab Hanafi ini dilahirkan di kota Kuffah pada tahun 80 Hijriah. Nama sebenarnya Nu’man bin Tsabit bin Zautha bin Mah. Beliau dilahirkan ketika pemerintahan Abdul Malik bin Marwan, khalifah bani Umayyah ke-5.

Sejak kecil beliau menjalani kehidupan yang selesaberkecukupan karena ayahnya seorang saudagar. Walaupun begitu, ini tidak berarti mengurangi kezuhudan dan kewarakannya.

Imam Abu Hanifah seorang yang sangat teliti dalam segala hal. Beliau tidak akan berteduh di bawah pohon kepunyaan orang yang berhutang dengannya.

Pernah beliau melihat pasukan tentara makan daging di tepi sebuah sungai. Sisa-sisa daging yang dimakan dibuang ke dalam sungai. Imam Abu Hanifah bertanya kepada penduduk sekitar, berapa usia ikan-ikan di dalam sungai itu. Ketika sudah diberitahu usianya, maka dalam tempo masa usia ikan-ikan itu, beliau tidak makan ikan. (beliau khawatir sisa-sisa daging yang dibuang yang dimakan ikan itu tidak jelas sumbernya/syubhat-red).

Ketika usianya masih anak-anak, Imam Abu Hanifah telah menunjukkan kecerdasan akal yang sungguh mengagumkan. Karena kelebihannya itu, gurunya Imam Amir bin Syarahil Asy-Syu’bi menasehatinya supaya memilih tempat belajar yang hanya dihadiri oleh alim ulama dan orang pandai yang sudah punya nama saja.

Pada suatu ketika, kota Baghdad didatangi seorang penyebar agama Yahudi yang bernama Dahri. Kedatangannya mencetuskan kegemparan di kalangan umat Islam Baghdad. Dahri mencoba merusakkan pegangan umat Islam dengan mengetengahkan soal-soal yang ada kaitannya dengan ketuhanan.

Dahri menantang siapa saja yang berani berdebat dengannya. Tantangan itu disambut hebat oleh alim ulama Baghdad. Tetapi apa yang menyedihkan, Dahri tidak pernah kalah setiap kali berdebat. Hujjah-hujjahnya gagal dipatahkan sampai akhirnya tidak ada lagi ulama Baghdad yang sanggup berdebat dengannya. Hingga khalifah memerintahkan menterinya meninjau ke daerah lain kalau masih ada ulama yang dapat dibawa untuk berhadapan dengan Dahri.

Akhirnya wakil khalifah menemui seorang ulama yang belum berdebat dengan Dahri. Namanya Hamad. Khalifah memerintahkan supaya hari perdebatan antara Hamad dan Dahri disegerakan. Dan pertemuan bersejarah itu mesti dibuat di mesjid jamik (masjid Agung) di tengah-tengah kota Baghdad.

Sehari kemudian, masjid jamik penuh sesak dengan orang. Masing-masing menaruh harapan agar Hamad berhasil menumbangkan Dahri karena hanya Hamad satu-satunya ulama yang masih tertinggal.

Seperti biasanya, sebelum menyampaikan makar jahatnya, Dahri akan menantang dan meleceh-lecehkan alim ulama Islam yang telah ‘ditewas’kannya. Dan dengan bersuara lantang dari atas panggung, dia menantang lagi kalau seandainya ada yang berani.

Tiba-tiba muncul Nu’man (Imam Abu Hanifah) yang ketika itu masih kecil. Beliau adalah murid Hamad. Berkata Nu’man dari bawah panggung, “Apakah pertanyaanmu wahai Dahri? Cobalah kemukakan agar dapat dijawab oleh yang mengetahui.”

Dahri tersenyum ketika menyadari yang meminta soal darinya seorang anak kecil.

Berkata Dahri, “Siapa kamu, wahai anak kecil? Adakah engkau mau menjawab pertanyaanku sedangkan sebelum ini sudah banyak alim ulama yang berserban dan berjubah panjang telah aku kalahkan.”

“Wahai Dahri,” balas Nu’man, “Sesungguhnya Allah tidak mengaruniakan kemulaiaan dan kebesaran itu kepada orang yang berserban besar dan yang berjubah labuh, tetapi Allah karuniakan kepada orang-orang yang berilmu.”

Nu’man lalu membacakan sebuah Firman Allah yang artinya, ”Allah telah meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu di antara kamu beberapa derajat.”

Tanpa diselangi dengan percakapan yang panjang, Dahri pun mengajukan pertanyaan yang pertama:

“Apakah Allah itu ada?”

Jawab Nu’man,”Ya. Wajib Allah itu ada”.

Tanya Dahri,”Kalau ada, di manakah tempatnya?”

“Wahai Dahri? Apakah engkau punya nyawa? Kalau ada, di manakah letaknya nyawamu?”

Tersentak Dahri ketika pertanyaannya dijawab dengan jawaban yang benar-benar mengujinya. Dahri mengajukan pertanyaan yang kedua setelah seketika Imam Abu Hanifah memberikan lagi hujjah-hujjah lain berhubungan dengan pertanyaan tadi.

Tanya Dahri, “Adakah sesuatu yang wujud sebelum wujudnya Allah dan apakah sesudahnya?”

Nu’man menjawab,”Sesungguhnya wujud Allah tidak didahului oleh sesuatu dan tidak diakhiri oleh sesuatu juga.”

“Tidak bisa diterima oleh akal barang yang ada tanpa permulaan dan tanpa kesudahan,” hujjah Dahri.

“Adakah jari lain sebelum ibu jarimu? Dan adakah jari lain sesudah jari kelingkingmu?”, balas Nu’man dengan pertanyaan lagi. Dahri terpegun. Nu’man memberikan beberapa hujjah yang lain dengan jelas.

Dahri mulai merasa tertantang. Kata Dahri menahan perasaan yang kurang enak, “Baiklah, ini pertanyaanku yang terakhir. Apakah pekerjaan Tuhanmu ketika ini?”

Pertanyaan tersebut membuatkan Nu’man tersenyum riang. Kata beliau, “Wah… ini pertanyaan yang sungguh menarik. Jadi, perlu dijawab dari tempat yang tinggi supaya dapat didengar oleh semua orang. Dahri turun dari pentasnya, memberi tempat untuk Imam Hanafi yang masih anak-anak itu, menjawab pertanyaan yang terakhir. Sambil berdiri gagah di atas panggung, berteriaklah Imam Abu Hanifah, “Wahai manusia sekalian, ketahuilah oleh kalian, bahwa kerja Allah ketika ini adalah, menaikkan yang haq, dan menjatuhkan yang bathil sebagaimana Allah menaikkan aku ke panggung ini, dan menurunkan Dahri ke bawah”.

Seiring dengan itu. Bergemalah pekikan takbir untuk merayakan kemenangan Imam Abu Hanifah.

Pada tahun-tahun akhir kehidupannya, yaitu ketika Bani Abbasiyiah telah mengambil alih pemerintahan, Imam Abu Hanifah dipilih untuk memegang jabatan ketua bendahara negara baitul mal, tetapi beliau menolaknya hingga gubernur Yazid bin Ammar sewaktu menjadi gubernur di Iraq merasa tidak senang. Pada waktu lain Yazid menawarkan jabatan kadhi kepada Imam Abu Hanifah, tetapi juga ditolak, sepreti beliau menolak jabatan yang sama yang pernah ditawarkan oleh Khalifah Marwan.

Yazid memanggil para alim ulama terkemuka di Iraq. Imam Abu Hanifah juga diundang tetapi beliau tidak hadir. Baginda menyerahkan jabatan-jabatan penting kepada alim ulama yang hadir. Kata Yazid, “Kalau Imam Abu Hanifah tidak mau menerima jabatan yang ditawarkan kepadanya, dia akan dipukul,” ancaman Gubernur disampaikan kepada Imam Abu Hanifah. Namun pendiriannya tetap tidak berubah. Gubernur tidak dapat lagi menahan marahnya. Imam Abu Hanifah ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Beliau dijatuhi hukuman cambuk sebanyak 110 cambukan. Ketika hukuman itu tidak mengubah pendirian Imam Abu Hanifah, beliau pun dibebaskan.

Waktu terus berjalan. Kepemimpinan pemerintahan berganti tangan. Namun pemerintah Iraq terus menawarkan jabatan penting negara kepada Imam Abu Hanifah. Tetapi setiap kali itu juga ditolak olehnya.

Puncak dari usaha-usaha itu, Imam Abu Hanifah dipenjara lagi. Beberapa lama dalam kurungan, gubernur memanggilnya ke Istana. Beliau disuguhkan segelas air yang bercampur racun. Gubernur memaksanya minum air itu.

Setelah meminum air itu, Imam Abu Hanifah diantar kembali ke penjara. Sesaat setelah itu, kematian pun datang menjemputnya. Berakhirlah hayat seorang ulama besar. Usianya ketika itu 70 tahun

Rasullah dan Wanita Yahudi

Ada seorang wanita tua Yahudi yang amat memusuhi Rasulullah. Perempuan tersebut selalu meletakkan duri dan kotoran di jalan yang sehari-hari dilewati Rasulullah. Rasulullah hanya mendiamkan saja. Jika beliau melihat duri tersebut, beliau hanya menyingkirkannya ke pinggir agar tidak terinjak orang lain. Kejadian tersebut berlangsung cukup lama.

Pada suatu hari Rasulullah tak melihat penghalang di jalan yang dilaluinya. Beliau segera bertanya pada orang-orang di sekitar tempat itu, “Wahai Saudarasaudara, di manakah wanita yang biasa meletakkan duri di sini?” Orang-orang menjawab, “Dia sedang sakit wahai Rasulullah. Dia terbaring di rumahnya, tak bisa bangun karena sakitnya.” Rasulullah pun berkata, “Kasihan sekali, tentu dia sangat sedih. Mari kita jenguk dia.”

Rasulullah beserta beberapa Sahabat segera menuju rumah wanita itu. Jalannya ditunjukkan oleh para tetangga wanita tersebut. Sebelum ke sana Rasulullah terlebih dahulu membelikan makanan yang manis-manis sebagai buah tangan bagi wanita tersebut. Sampai di sana mereka mohon ijin pada penghuni rumah untuk masuk. Melihat siapa yang datang wanita itu sungguh terkejut dan merasa malu. Rasulullah memberikan buah tangan yang dibawanya dan menanyakan sakit wanita tersebut. Wanita itu menceritakan sakitnya.

Setelah berbicara dengan wanita itu, Rasulullah segera mengangkat tangannya, berdoa bagi kesembuhan wanita tersebut. ALLAH Yang Maha Pemelihara tak akan menyia-nyiakan doa kekasihNya. Kontan wanita tersebut menjadi sehat dan dapat duduk. Sambil terisak-isak karena terharu wanita itu berkata: “Aku sungguh tak menyangka bahwa engkau begitu memperhatikan keadaanku. Padahal aku begitu memusuhimu dan terus berusaha mencelakakanmu. Mulai saat ini aku masuk Islam.

Begitulah keagungan dan kemuliaan akhlak Rosulullah SAW yang mesti kita teladani. Sangat jauh sekali dengan akhlak pemimpin-pemimpin dunia saat ini.

9 mimpi Rasulullah s.a.w

Oleh: Abu Jihad
nisasolehah menulis - "Nabi Muhammad saw bersabda: "Sesungguhnya aku telah mengalami mimpi-mimpi yang menakjubkan pada malam aku sebelum di Israqkan."

1. Aku telah melihat seorang dari umatku telah didatang oleh malaikatul maut dengan keadaan yg amat mengerunkan untuk mengambil nyawanya, maka malaikat itu terhalang perbuatannya itu disebabkan oleh KETAATAN DAN KEPATUHANNYA KEPADA KEDUA IBUBAPANYA.

2. Aku melihat seorang dari umatku telah disediakan azab kubur yang amat menyiksakan, maka ia telah diselamatkan oleh berkat WUDUKNYA YANG SEMPURNA.

3. Aku melihat seorang dari umatku sedang dikerumuni oleh syaitan-syaitan dan iblis-iblis lakhnatullah, maka ia diselamatkan dengan berkat ZIKIRNYA YANG TULUS IKHLAS kepada Allah.

4. Aku melihat bagaimana umatku diseret dengan rantai yang diperbuat daripada api neraka jahanam yang dimasukkan dari mulut dan dikeluarkan rantai tersebut ke duburnya oleh malaikut Ahzab, tetapi SOLATNYA YANG KHUSUK DAN TIDAK MENUNJUK-NUNJUK telah melepaskannya dari seksaan itu.

5. Aku melihat umatku ditimpa dahaga yang amat berat, setiap kali dia mendatangi satu telaga dihalang dari meminumnya, ketika itu datanglah pahala PUASANYA YANG IKHLAS KEPADA ALLAH SWT memberi minum hingga ia merasa puas.

6. Aku melihat umatku cuba untuk mendekati kumpulan para nabi yang sedang duduk berkumpulan-kumpulan, setiap kali dia datang dia akan diusir, maka menjelmalah MANDI JUNUB DENGAN RUKUN YANG SEMPURNANYA sambil memimpinnya ke kumpulanku seraya duduk disebelahku.

7. Aku melihat seorang dari umatku berada di dalam keadan gelap gelita disekelilingnya, sedangkan dia sendiri di dalam keadaan binggung, maka datanglah pahala HAJI DAN UMRAHNYA YANG IKHLAS KEPADA ALLAH SWT lalu mengeluarkannya dari kegelapan kepada tempat yang terang-menderang.

8. Aku melihat umatku cuba berbicara dengan golongan orang mukmin tetapi mereka tidakpun membalas bicaranya, maka menjelmalah SIFAT SILATURRAHIMNYA DAN TIDAK SUKA BERMUSUH-MUSUHAN SESAMA UMATKU lalu menyeru kepada mereka agar menyambut bicaranya, lalu berbicara mereka dengannya.

9. Aku melihat umatku sedang menepis-nepis percikan api ke mukannya, maka segeralah menjelma pahala SEDEKAHNYA YANG IKHLAS KERANA ALLAH SWT lalu menabir muka dan kepalanya dari bahaya api tersebut. BERSABDA RASULULLAH SAW, "SAMPAIKANLAH PESANANKU KEPADA UMATKU YANG LAIN WALAUPUN DENGAN SEPOTONG AYAT" Jangan terlalu fikirkan esok hari yang kita sendiri tak pasti samaada kita masih bernafas lagi atau tidak. Jangan difikirkan peristiwa lampau yg takkan dapat mengubah apa2 keadaan pun. Fikirlah apa yg kita hendak buat sekarang. Dan pasti kan apa yg kita buat utk hari ini adalah yg terbaik. Kerana perkara yg terbaik kita buat hari ini akan menghasilkan keputusan yg baik utk esok. Yang seterusnya menjadi kenangan manis untuk kita pada masa akan datang."

dipetik drp: www.tranungkite.net

Kehebatan Lelaki Sejati

Tuanku, engkau boleh berjalan di atas air!” murid-muridnya berkata dengan penuh kekaguman kepada Bayazid Al-Busthami.

“Itu bukan apa-apa. Sepotong kayu juga boleh,” Bayazid menjawab.

“Tapi engkau juga terbang di angkasa.”

“Demikian juga burung-burung itu,” tunjuk Bayazid ke langit.

“Engkau juga mampu bepergian ke Ka’bah dalam semalam.”

“Setiap pengelana yang kuat pun akan mampu pergi dari India ke Demavand dalam waktu satu malam,” jawab Bayazid.

“Kalau begitu, apa kehebatan seorang lelaki sejati?” murid-muridnya ingin tahu.

“Lelaki sejati,” jawab Bayazid, “adalah mereka yang mampu melekatkan hatinya tidak kepada sesuatu pun selain Tuhan.”

Ketika Ibrahim Menangis

Suatu hari, seorang tokoh sufi besar, Ibrahim bin Adham, mencoba untuk memasuki sebuah tempat pemandian umum. Penjaganya meminta wang untuk membayar karcis masuk. Ibrahim menggeleng dan mengaku bahwa ia tak punya wang untuk membeli karcis masuk.
Penjaga pemandian lalu berkata, “Jika engkau tidak punya wang, engkau tak boleh masuk.”
Ibrahim seketika menjerit dan tersungkur ke atas tanah. Dari mulutnya terdengar ratapan-ratapan kesedihan. Para pejalan yang lewat berhenti dan berusaha menghiburnya. Seseorang bahkan menawarinya wang agar ia dapat masuk ke tempat pemandian.

Ibrahim menjawab, “Aku menangis bukan karena ditolak masuk ke tempat pemandian ini. Ketika si penjaga meminta ongkos untuk membayar karcis masuk, aku langsung teringat pada sesuatu yang membuatku menangis. Jika aku tak diizinkan masuk ke pemandian dunia ini kecuali jika aku membayar tiket masuknya, harapan apa yang boleh kumiliki agar diizinkan memasuki surga? Apa yang akan terjadi padaku jika mereka menuntut: Amal salih apa yang telah kau bawa? Apa yang telah kau kerjakan yang cukup berharga untuk boleh dimasukkan ke surga? Sama ketika aku diusir dari pemandian karena tak mampu membayar, aku tentu tak akan diperbolehkan memasuki surga jika aku tak mempunyai amal salih apa pun. Itulah sebabnya aku menangis dan meratap.”

Dan orang-orang di sekitarnya yang mendengar ucapan itu langsung terjatuh dan menangis bersama Ibrahim.

Keperluan Yang Makin Mendesak

Pada suatu malam, seorang penguasa tiran di Turkistan sedang mendengarkan kisah-kisah yang disampaikan oleh seorang darwis. Tiba-tiba bertanya tentang Nabi Khidir. Khidir, kata darwis itu, datang kalau diperlukan. Tangkap dan jubahkan ia kalau ia muncul, dan segala pengetahuan menjadi milik paduka. Apakah itu boleh terjadi pada siapa pun? Siapa pun boleh, kata darwis itu.
Siapa pula lebih boleh dariku? fikir sang Raja; dan ia pun mengedarkan pengumuman: Barangsiapa boleh menghadirkan Khidir yang gaib, akan kujadikan orang kaya.

Seorang lelaki miskin dan buta bernama Bakhtiar Baba, setelah mendengar pengumuman itu menyusun akal. Ia berkata kepada istrinya, Aku punya rencana. Kita akan segera kaya, tetapi beberapa lama kemudian aku harus mati. Namun, hal itu tidak mengapa, sebab kekayaan kita itu boleh menghidupimu selamanya.

Kemudian Bakhtiar menghadap Raja dan mengatakan bahwa ia akan mencari Khidir dalam waktu empat puluh hari, kalau Raja bersedia memberinya seribu keping emas. Kalau kau boleh menemukan Khidir, kata Raja, kau akan mendapat sepuluh kali seribu keping wang emas ini. Kalau gagal, kau akan mati, dipancung di tempat ini sebagai peringatan kepada siapa pun yang akan mencoba mempermainkan rajanya.

Bakhtiar menerima syarat itu. Ia pun pulang dan memberikan wang itu kepada istrinya, sebagi jaminan hari tuanya. Sisa hidupnya yang tinggal empat puluh hari itu dipergunakannya untuk merenung, mempersiapkan diri memasuki kehidupan lain.

Pada hari keempat puluh ia menghadap Raja. Yang Mulia, katanya, kerakusanmu telah menyebabkan kau berfikir bahwa wang akan boleh mendatangkan Khidir. Tetapi Khidir, kata orang, tidak akan muncul oleh panggilan yang berdasarkan kerakusan.
Sang Raja sangat marah, Orang celaka, kau telah mengorbankan nyawamu; siapa pula kau ini berani mencampuri keinginan seorang raja?

Bakhtiar berkata, Menurut dongeng, semua orang boleh bertemu Khidir, tetapi pertemuan itu hanya akan ada manfaatnya apabila maksud orang itu benar. Mereka bilang, Khidir akan menemui orang selama ia boleh memanfaatkan saat kunjungannya itu. Itulah hal yang kita tidak menguasainya.

Cukup ocehan itu, kata sang Raja, sebab tak akan memperpanjang hidupmu. Hanya tinggal meminta para menteri yang berkumpul di sini agar memberikan nasihatnya tentang cara yang terbaik untuk menghukummu.

Ia menoleh ke Menteri Pertama dan bertanya, Bagaimana cara orang itu mati? Menteri Pertama menjawab, Panggang dia hidup-hidup sebagai peringatan.

Menteri Kedua, yang berbicara sesuai urutannya, berkata, Potong-potong tubuhnya, pisah-pisahkan anggota badannya.

Menteri Ketiga berkata, Sediakan kebutuhan hidup orang itu agar ia tidak lagi mau menipu demi kelangsungan hidup keluarganya.

Sementara pembicaraan itu berlangsung, seseorang yang bijaksana yang sudah sangat tua memasuki rwang pertemuan. Ia berkata, Setiap orang mengajukan pendapat sesuai dengan prasangka yang tersembunyi di dalam dirinya.

Apa maksudmu, tanya Raja.

Maksudku, Menteri Pertama itu aslinya Tukang Roti, jadi ia berbicara tentang panggang memanggang. Menteri Kedua, dulunya Tukang Daging, jadi ia berbicara tentang potong memotong daging. Menteri Ketiga, yang telah mempelajari ilmu kenegaraan, melihat sumber masalah yang kita bicarakan ini.
Catat dua hal ini, pertama, Khidir muncul melayani setiap orang sesuai kemampuan orang itu untuk memanfaatkan kedatangannya. Kedua, Bakhtiar, orang ini yang kuberi nama Baba (Bapak dalam bahasa Parsi, -red.) karena pengorbanannya- telah didesak oleh keputusasaannya untuk melakukan tindakan tersebut. Keperluannya semakin mendesak sehingga aku pun muncul di depanmu.

Ketika orang-orang itu memperhatikannya, orang tua yang bijaksana itu pun lenyap begitu saja. Sesuai yang diperintahkan Khidir. Raja memberikan belanja teratur kepada Bakhtiar. Menteri Pertama dan Kedua dipecat, dan seribu keping wang emas itu dikembalikan ke kas kerajaan oleh Bakhtiar dan istrinya.

(Catatan: Bakhtiar Baba adalah seorang sufi bijaksana, yang hidupnya sangat sederhana dan tak dikenal orang di Khurasan, sampai peristiwa yang ada dalam kisah itu terjadi. Kisah ini, dikatakan juga terjadi pada sejumlah besar syekh sufi lain dan menggambarkan pengertian tentang terjalinnya keinginan manusia dengan makhluk lain. Khidir merupakan penghubung antara keduanya. Judul ini diambil dari sebuah sajak terkenal karya Jalaluddin Rumi: Peralatan baru bagi pemahaman akan ada apabila keperluan menuntutnya/ Karenanya, wahai manusia, jadikan keperluanmu makin mendesak/ Sehingga engkau boleh mendesakkan pemahamanmu lebih peka lagi.)

Tiga Nasihat

Pada suatu hari, ada seseorang menangkap burung. Burung itu berkata kepadanya, Aku tak berguna bagimu sebagai tawanan. Lepaskan saja aku. Nanti aku beri kau tiga nasihat.

Si burung berjanji akan memberikan nasihat pertama ketika berada dalam genggaman orang itu. Yang kedua akan diberikannya kalau ia sudah berada di cabang pohon dan yang ketiga ketika ia sudah mencapai puncak bukit.

Orang itu setuju, lalu ia meminta nasihat pertama. Kata burung itu, Kalau kau kehilangan sesuatu, meskipun engkau menghargainya seperti hidupmu sendiri, jangan menyesal.

Orang itu pun melepaskannya dan burung itu segera melompat ke dahan. Disampaikannya nasihat yang kedua, Jangan percaya kepada segala yang bertentangan dengan akal, apabila tak ada bukti.

Kemudian burung itu terbang ke puncak gunung. Dari sana ia berkata, Wahai manusia malang! Dalam diriku terdapat dua permata besar, kalau saja tadi kau membunuhku, kau akan memperolehnya. Orang itu sangat menyesal memikirkan kehilangannya, namun katanya, setidaknya, katakan padaku nasihat yang ketiga itu!

Si burung menjawab, Alangkah tololnya kau meminta nasihat ketiga sedangkan yang kedua pun belum kau renungkan sama sekali. Sudah kukatakan padaku agar jangan kecewa kalau kehilangan dan jangan mempercayai hal yang bertentangan dengan akal. Kini kau malah melakukan keduanya. Kau percaya pada hal yang tak masuk akal dan menyesali kehilanganmu. Aku pun tidak cukup besar untuk menyimpan dua permata besar! Kau tolol! Oleh karenanya kau harus tetap berada dalam keterbatasan yang disediakan bagi manusia.

Tuhan Melihat Hatimu

Pada suatu hari, Hasan Al-Basri pergi mengunjungi Habib Ajmi, seorang sufi besar lain. Pada waktu salatnya, Hasan mendengar Ajmi banyak melafalkan bacaan salatnya dengan keliru. Oleh karena itu, Hasan memutuskan untuk tidak salat berjamaah dengannya. Ia menganggap kurang pantaslah bagi dirinya untuk salat bersama orang yang tak boleh mengucapkan bacaan salat dengan benar.

Di malam harinya, Hasan Al-Basri bermimpi. Ia mendengar Tuhan berbicara kepadanya, “Hasan, jika saja kau berdiri di belakang Habib Ajmi dan menunaikan salatmu, kau akan memperoleh keridaan-Ku, dan salat kamu itu akan memberimu manfaat yang jauh lebih besar daripada seluruh salat dalam hidupmu. Kau mencoba mencari kesalahan dalam bacaan salatnya, tapi kau tak melihat kemurnian dan kesucian hatinya. Ketahuilah, Aku lebih menyukai hati yang tulus daripada pengucapan tajwid yang sempurna.

Sibuk Mengurus Hati

Suatu ketika, seorang Arab datang ingin berguru kepada Abu Said Abul Khair, seorang tokoh sufi yang terkenal karena karamahnya dan gemar mengajar tasawuf di pengajian-pengajian. Rumah guru sufi itu terletak di tengah-tengah padang pasir. Ketika orang itu tiba, Abul Khair sedang memimpin majlis simaan (acara mendengarkan orang membaca doa, -red.) di tengah para pengikutnya. Waktu itu Abul Khair membaca Al-Fatihah. Ia tiba pada ayat: ghairil maghdubi alaihim, wa laz zalim. Orang Arab itu berfikir, '?Bagaimana mungkin aku boleh berguru kepadanya. Baca Al-Quran saja, ia tidak boleh. Orang itu mengurungkan niatnya untuk belajar kepada Abul Khair.

Begitu orang itu keluar, ia dihadang oleh seekor singa padang pasir yang buas. Ia mundur tetapi di belakangnya ada seekor singa lain yang menghalanginya. Lelaki Arab itu menjerit keras karena ketakutan. Mendengar teriakannya, Abul Khair turun keluar meninggalkan majlisnya. Ia menatap kedua ekor singa itu dan menegur mereka, Bukankah sudah kubilang jangan ganggu para tamuku!? Kedua singa itu lalu bersimpuh di hadapan Abul Khair.

Sang sufi lalu mengelus telinga keduanya dan menyuruhnya pergi. Lelaki Arab itu kehairanan, Bagaimana Anda dapat menaklukkan singa-singa yang begitu liar? Abul Khair menjawab, Aku sibuk memperhatikan urusan hatiku. Untuk kesibukanku memperhatikan hati ini, Tuhan menaklukkan seluruh alam semesta kepadaku. Sedangkan kamu sibuk memperhatikan hal-hal lahiriah, karena itu kamu takut kepada seluruh alam semesta.

The Story of a Wrestler

BismillahirRahmanir Rahim

"Junayd Baghdadi earned his livelihood as a professional wrestler. As was the norm, the Leader of Baghdad announced one day, "Today, Junayd Baghdadi will demonstrate his skills as a wrestler, is there anyone to challenge him." An elderly man shakily stood up with his neck quivering and said, "I will enter the contest with him."

Whoever was witness to this scene could not contain themselves; they burst out howling with laughter, clapping their hands. The King was bound by the law. He could not stop someone who of his own free will entered the bout. The elderly man was given the permission to enter the ring. He was about sixty-five years old. When Junayd Baghdadi entered the ring, he was dumbfounded as was the King and all the spectators of the Kingdom who were present. The single thought that occupied their minds was, "How will this old man be able to fight?"

The old man addressed Junayd with these words, "Lend me your ears." He then whispered, "I know it is not possible for me to win this bout against you, but I am a Sayyid, a descendant of Prophet Muhammad (peace be upon him). My children are starving at home. Are you prepared to sacrifice your name, your honour and position for the love of Allah's Prophet and lose this bout to me? If you do this I will be able to collect the prize money and thereby have the means to feed my children and myself for an entire year. I will be able to settle all my debts and above all, the master of both the worlds will be pleased with you. Are you, Oh Junayd, not willing to sacrifice your honour for the sake of the children of Rasulullah (peace be upon him)?"

Junayd Baghdadi thought to himself, "Today, I have an excellent opportunity. " In a display of fervour Junayd Baghdadi executed a couple of manoeuvres, demonstrating his finesse so that the King does not suspect any conspiracy. Junayd with a great display of antics did not use his strength and allowed himself to be dropped. The elderly man mounted his chest thus entitling him to the prize.

That night, Junayd Baghdadi had a dream of Prophet Muhammad (peace be upon him) who said, "Oh Junayd, you have sacrificed your honour, your nationally acclaimed fame, your name and position which was heralded throughout Baghdad in the expression of your love for my children who were starving. As of today, your name is recorded in the register of the Auliya (friends of Allah)."

Thereafter, this great wrestler learnt to defeat his nafs (desires) and became one of the most eminent Auliya of his time!"

SELAWAT

1. Allah dan malaikat berselawat ke atas Nabi SAW berdasarkan keterangan dari Al Quran surah Al Ahzab:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا

56. Sesungguhnya Allah dan malaikatNya berselawat (memberi Segala penghormatan dan kebaikan) kepada Nabi (Muhammad s.a.w); Wahai orang-orang Yang beriman berselawatlah kamu kepadanya serta Ucapkanlah salam sejahtera Dengan penghormatan Yang sepenuhnya.

2. Adakah Islam memerintahkan umatnya untuk berselawat ke atas Nabi SAW?

Dari keterangan ayat Al Quran di atas, Allah SWT menyuruh / memerintahkan kita semua untuk berselawat ke atas Nabi SAW. Melalui ayat perintah ini, adalah menjadi kewajipan kepada kita semua untuk berselawat ke atas Nabi SAW.

3. Apakah waktu yang sesuai untu berselawat ke atas Nabi SAW?


Islam telah mengajarkan waktu untuk berselawat ke atas Nabi SAW dan antaranya ialah apabila:

a. Bila disebut nama Nabi Muhamad SAW, hendaklah kita berselawat.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. bahawa Nabi saw bersabda :

رغِم أنفُ رجلٍ ذُكرتُ عنده فلم يصلِّ عليَّ

“Semoga digosokan hidungnya dengan debu bagi lelaki yang di peringatkan aku disisinya akan tetapi tidak berselawat diatas ku”

[hadith Riwayat al-Tirmudzi #3545, dikelaskan sebagai sahih oleh al-albani didalam Irwa’ al-Ghaleel, #6].

b. Hendaklah kita berselawat ke atas Nabi SAW di dalam solat iaitu ketika tasyahud awal dan akhir

c. Hendaklah berselawat ketika hendak berdoa kepada Allah.

4. Apakah yang akan kita perolehi apabila kita berselawat ke atas Nabi SAW?

Ganjaran pahala berselawat ke atas Nabi saw sangat besar. Dari Abu Hurairah ra. bahawa Nabi saw bersabda :-

من صلى عليَّ واحدة صلى الله عليه بها عشراً

“Barangsiapa yang berselawat keatas aku 1 kali, Allah akan berselawat keatasnya 10 kali” [hadith sahih riwayat Muslim].

5. Apakah maknanya atau kupasan “Allah berselawat ke atas orang yang berselawat ke atas Nabi saw”??

Mengikut ayat Al Quran dari surah Al Ahzab: 43 mafhumnya

43. Dia lah Yang memberi rahmat kepada kamu - dan malaikatNya pula (berdoa bagi kamu) - untuk mengeluarkan kamu dari kegelapan (kufur dan maksiat) kepada cahaya Yang terang-benderang (iman dari taat); dan adalah ia sentiasa melimpah-limpah rahmatNya kepada orang-orang Yang beriman (di dunia dan di Akhirat).

Berdasarkan ayat ini, dijelaskan bahawa selawat Allah kepada manusia yang berselawat ke atas Nabi SAW adalah membawa erti mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya yang terang benderang.

6. Maksud kegelapan dan adakah penyembuh (syifak) dan tafrijiyah (membuka ikatan) termasuk dalam maksud selawat Allah ke atas manusia?

Jawapan kepada persoalan ini dapat dilihat dari lafaz Adzzulumat yang terdapat di dalam Al Quran seperti berikut :

Al Baqarah:257 Mafhumnya

257. Allah Pelindung (yang mengawal dan menolong) orang-orang Yang beriman. ia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kufur) kepada cahaya (iman). dan orang-orang Yang kafir, penolong-penolong mereka ialah Taghut Yang mengeluarkan mereka dari cahaya (iman) kepada kegelapan (kufur). mereka itulah ahli neraka, mereka kekal di dalamnya.

Al Maidah:16 Mafhumnya

16. Dengan (Al-Quran) itu Allah menunjukkan jalan-jalan keselamatan serta kesejahteraan kepada sesiapa Yang mengikut keredaanNya, dan (dengannya) Tuhan keluarkan mereka dari gelap-gelita (kufur) kepada cahaya (iman) Yang terang-benderang, Dengan izinNya; dan (dengannya juga) Tuhan menunjukkan mereka ke jalan Yang lurus.

Al An’am:1 Mafhumnya

1. Segala puji tertentu bagi Allah Yang menciptakan langit dan bumi, dan menjadikan gelap dan terang; Dalam pada itu, orang-orang kafir menyamakan (sesuatu Yang lain) Dengan Tuhan mereka.

Al An’am: 39 Mafhumnya

39. dan orang-orang Yang mendustakan ayat-ayat keterangan kami, mereka adalah bisu dan tuli, di Dalam gelap-gelita. sesiapa Yang Allah kehendaki: akan disesatkannya (menurut peraturan tetapNya), dan sesiapa Yang ia kehendaki: akan dijadikannya atas jalan Yang betul lurus.

Al An’am:122

122. dan Adakah orang Yang mati (hatinya Dengan kufur), kemudian Kami hidupkan Dia semula (dengan hidayah petunjuk), dan Kami jadikan baginya cahaya (iman) Yang menerangi (sehingga dapatlah ia membezakan antara Yang benar Dengan Yang salah, dan dapatlah) ia berjalan Dengan suluhan cahaya itu Dalam masyarakat manusia, (adakah orang Yang demikian keadaannya) sama seperti Yang tinggal tetap di Dalam gelap-gelita (kufur), Yang tidak dapat keluar sama sekali daripadanya? Demikianlah (sebagaimana iman itu diperlihatkan keelokannya kepada orang-orang Yang beriman), diperlihatkan pula pada pandangan orang-orang Yang kafir itu akan keelokan apa Yang mereka telah lakukan (dari perbuatan kufur dan Segala jenis maksiat).

Ar Raad: 16

16. Bertanyalah (Wahai Muhammad): "Siapakah Tuhan Yang memelihara dan mentadbirkan langit dan bumi?" Jawablah: "Allah". Bertanyalah lagi: "Kalau demikian, Patutkah kamu menjadikan benda-benda Yang lain dari Allah sebagai Pelindung dan Penolong, Yang tidak dapat mendatangkan sebarang manfaat bagi dirinya sendiri, dan tidak dapat menolak sesuatu bahaya?" Bertanyalah lagi: "Adakah sama, orang Yang buta Dengan orang Yang celik? atau Adakah sama, gelap-gelita Dengan terang? atau Adakah makhluk-makhluk Yang mereka jadikan sekutu bagi Allah itu telah mencipta sesuatu seperti ciptaanNya, sehingga ciptaan-ciptaan itu menjadi kesamaran kepada mereka?" katakanlah: "Allah jualah Yang menciptakan tiap-tiap sesuatu, dan Dia lah Yang Maha Esa, lagi Maha Kuasa".

Dan banyak lagi diterangkan maksud adzzulumat di dalam ayat Al Quran lainya seperti Ibrahim:1, 5, Al Anbia:87, Al Ahzab:43, Fathir:20, Al Hadid: 9 dan At Thalak:11

Menurut kitab tafsir Al Jalalain, adzzulumat adalah bermaksud kekufuran manakala menurut tafsir Ibnu Kathsir, ia membawa maksud kejahilan dan kesesatan.

Jelaslah disini bahawa mengikut potongan-potongan ayat di atas serta tafsir ulama yang muktabar, selawat Allah ke atas manusia adalah untuk mengeluarkan manusia daripada kufur, jahil atau sesat. Tidak ada kaitan langsung dengan penyembuhan (syifa’) dan membuka ikatan (tafrijiah).

7. Apakah maksud atau erti kepada “malaikat berselawat ke atas manusia” sebagaimana dijelaskan Allah dalam surah al-Ahzab : 56 di atas?

Mengikut tafsir ulama di atas, malaikat berselawat ke atas manusia yang berselawat ke atas Nabi SAW. Mereka berdoa kepada Allah untuk orang-orang yang beriman dan beristighfar kepada Allah untuk mereka ini sebagaimana firman Allah dalam surah Ghafir/Mukmin:7.

7. Malaikat Yang memikul Arasy dan malaikat Yang berada di sekelilingnya, bertasbih memuji Tuhannya; dan beriman kepadanya; serta mereka memohon ampun bagi orang-orang Yang beriman (dengan berdoa merayu): "Wahai Tuhan kami! rahmatMu dan IlmuMu meliputi segala-galanya; maka berilah ampun kepada orang-orang Yang bertaubat serta menurut jalanMu, dan peliharalah mereka dari azab neraka.

Jelas dalam ayat di atas bahawa doa malaikat untuk manusia kepada Allah ini tiada kaitan langsung dengan penyembuhan (syifa’) dan membuka ikatan (tafrijiyah).

8. Apakah lafaz selawat yang diajarkan islam untuk umatnya mengamalkannya??

Persoalan ini adalah jelas bahawa berdasarkan hadis-hadis, Nabi Muhamad SAW telah mengajarkan kepada umatnya bagaimana untuk berselawat.

215 - Diriwayatkan daripada Abu Humaid As-Saidi r.a katanya: Para Sahabat berkata: Wahai Rasulullah, bagaimanakah caranya untuk kami ucapkan selawat untukmu? Baginda bersabda: Bacalah:


اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى] إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى[ آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى ] إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى[ آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجيدِيدٌ

Riwayat Ahmad (hadis no. 18129,18130,18152), Bukhari (hadis no. 3190,4519,5996), Muslim ( hadis no. 406 (66)), Abu Daud (hadis no. 976),Tirmizi (hadis no. 483), Nasaie (hadis no.1287,1288,1289), Darimi (hadis no.1342),Ibn Hibban dlm sahih (hadis no. 912,1957,1964), Syafie dlm Musnad (hadis no. 172), al-Hakim dlm Mustadrak (hadis no. 4710), al-Humaidi dlm Musnad (hadis no.711), Thahawi dlm Mskl Athar (hadis no.1860) dan lain-lain, semuanya dari jalan kaab bin Uzraht dgn lafaz yg sedikit berbeza.

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وآل إبراهيم إنك حميد مجيد وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وآل إبراهيم إنك حميد مجيد

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على آل إبراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على آل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد

Hadis dgn matan diatas (fil alamin) diriwayatkan dari Abi Masud al-Ansari, dikeluarkan antaranya oleh Ahmad (hadis no. 22406), Muslim (hadis no. 405 (65)), Malik dlm Muwattho’ (hadis no. 292), Tirmizi (hadis no. 3220), Nasaie (hadis no. 1285), Darimi (hadis no. 1343), Ibn Hibban (hadis no. 1958,1965), Tabarani dlm Mu’jam Kabir (hadis no. 697,725), Abd Razak dlm Musannaf (hadis no. 3108), al-Baihaqi dlm Syuab al-Iman (hadis no. 1547) dan Sunan Kubra (hadis no. 2671,1208,9876,11423) dan lain-lain.

Sila ke url berikut untuk melihat hadis-hadis nabi berkenaan selawat sebagaimana yang diajarkan Nabi SAW dalam hadis-hadis sahihnya; http://soaljawab.wordpress.com/2007/05/21/selawat-selawat-yang-nabi-ajarkan/#comment-163

Walau pun hadis-hadis yang diajarkan Nabi sebagaimana dalam hadis-hadis ini terdapat sedikit perbezaan lafaz, sebenarnya dari segi maksud dan makna adalah sama. Kesemuanya mendoakan ke atas Nabi Muhamad SAW, Nabi Ibrahim serta keluarga mereka.

9. Berapa kerap kita disuruh untuk berselawat ke atas Nabi Muhamad SAW?

Berdasarkan sebuah hadis yang sahih mafhumnya: Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw “Berapa kali saya perlu berselawat ke atas mu wahai rasulullah SAW?”. Maka Nabi SAW menjawab “suku daripada zikir mu”. Sahabat menjawab lagi “Aku boleh lebih daripada itu ya Rasulullah”. Nabi menjawab “Separuh dari zikir mu”. Sahabat menjawab lagi “Aku boleh lebih dari itu Ya Rasulullah” sehingga Nabi SAW berkata “Jadikanlah zikir mu berselawat ke atas ku. Jikalau kamu berbuat demikian, maka Allah akan memberi kecukupan kepada kamu dan Allah akan memberikan seperti apa saja yang diminta oleh orang-orang lain”.

Rumusan

1. Wajib berselawat ke atas Nabi Muhamad SAW.

2. Allah dan malaikat akan berselawat ke atas kita apabila kita berselawat ke atas Nabi SAW. 1 kali berselawat di balas dengan 10 kali selawat oleh Allah dan malaikat. Inilah satu pelaburan yang sangat menguntungkan.

3. Selawat Allah ke atas kita adalah untuk mengeluarkan kita dari kekufuran atau kejahilan atau kesesatan kepada cahaya keimanan.

4. Berselawat ke atas Nabi bakal mengundang selawat dari Allah dan malaikat yang bakal mengundang pula pelbagai rahmat dari Allah SWT dan bukan dari Nabi Muhamad SAW. Ini adalah asas ilmu tauhid dan bertepatan dengan keterangan dari Al Quran surah An Nisaak:79 mafhumnya

79. apa jua kebaikan (Nikmat kesenangan) Yang Engkau dapati maka ia adalah dari Allah; dan apa jua bencana Yang menimpamu maka ia adalah dari (kesalahan) dirimu sendiri. dan Kami telah mengutus Engkau (Wahai Muhammad) kepada seluruh umat manusia sebagai seorang Rasul (yang membawa rahmat). dan cukuplah Allah menjadi saksi (yang membuktikan kebenaran hakikat ini).

5. Lafaz selawat telah diajarkan jelas oleh Nabi SAW dan dengan itu janganlah menciptakan selawat yang baru kerana perbuatan ini adalah seperti tidak menghargai ajaran Rasulullah SAW atau pun seolah-olah menyatakan bahawa Nabi SAW telah tidak menyampaikan ajaran Islam dengan sempurna sebagaimana telah dijawab oleh imam Maliki ketika manusia hendak menambah amalan berzikir yang tidak diajar Rasulullah SAW. Dalam bahasa kasar berhubung beramal dengan selawat-selawat ciptaan baru ini ialah seolah-olah orang yang menambah dan menciptakan selawat baru ini serta mereka yang beramal dengannya lebih hebat dan pandai berbanding Nabi Muhamad SAW dan Allah SWT. Nauzubillahiminzalik!

Sehingga kini telah terdapat begitu banyak selawat-selawat yang bertentangan dengan apa yang diajarkan Nabi SAW seperti selawat Syifa’, selawat Tafrijiah, Selawat Fateh dll.

6. Perlu memperbanyakkan selawat ke atas Rasulullah SAW seberapa yang mampu sehingga selawat ini diamalkan sepanjang masa bukan sekadar 3 kali, 7 kali dsbnya.

7. Jikalau seseorang hamba berselawat ke atas Nabi SAW dengan lafaz yang diajarkan (bukan selawat ciptaan baru) serta beriktikad bahawa balasan selawat itu datangnya dari Allah dan bukannya daripada Nabi dan memperbanyakkan lafaz selawat itu sehingga menjadikannya zikir sepanjang masa, maka insya-Allah seperti yang dijanjikan oleh Rasulullah saw sebagaimana hadis di atas, akan Allah berikan kepadanya KECUKUPAN dan segala rahmat Allah seperti yang diminta oleh orang-orang lain.

Sekian untuk kali ini. Wassalam wallahualam.