Ada riwayat menyatakan bahwa gelaran Abu Hanifah diberikan kepada Imam Hanafi karena ketekunannya beribadah, sesuai dengan perkataan makna hanif yang dalam bahasa arabnya berarti “cenderung” atau “condong” kepada agama yang sebenarnya. Ada juga riwayat menyebut karena kegemarannya menulis hingga beliau dikatakan tidak pernah jauh dengan pena dan tinta. Hanifah menurut lughah Iraq berarti “tinta” atau “dakwat”.
Lain riwayat lagi menyebutkan, gelaran Abu Hanifah adalah berkaitan dengan anak lelakinya yang bernama Hanifah. Abu Hanifah berarti “Bapak Hanifah”.
Menurut riwayat lain juga, ‘Abu Hanifah’ dikatakan berarti ‘kran air’ karena luar biasa kecerdikan dan kepandaian yang dimiliki oleh Imam Hanafi semenjak kecil. Kecerdikannya ibarat kran air, diputar saja keluar airnya (ilmu).
Pengasas Mazhab Hanafi ini dilahirkan di kota Kuffah pada tahun 80 Hijriah. Nama sebenarnya Nu’man bin Tsabit bin Zautha bin Mah. Beliau dilahirkan ketika pemerintahan Abdul Malik bin Marwan, khalifah bani Umayyah ke-5.
Imam Abu Hanifah seorang yang sangat teliti dalam segala hal. Beliau tidak akan berteduh di bawah pohon kepunyaan orang yang berhutang dengannya.
Pernah beliau melihat pasukan tentara makan daging di tepi sebuah sungai. Sisa-sisa daging yang dimakan dibuang ke dalam sungai. Imam Abu Hanifah bertanya kepada penduduk sekitar, berapa usia ikan-ikan di dalam sungai itu. Ketika sudah diberitahu usianya, maka dalam tempo masa usia ikan-ikan itu, beliau tidak makan ikan. (beliau khawatir sisa-sisa daging yang dibuang yang dimakan ikan itu tidak jelas sumbernya/syubhat-red).
Ketika usianya masih anak-anak, Imam Abu Hanifah telah menunjukkan kecerdasan akal yang sungguh mengagumkan. Karena kelebihannya itu, gurunya Imam Amir bin Syarahil Asy-Syu’bi menasehatinya supaya memilih tempat belajar yang hanya dihadiri oleh alim ulama dan orang pandai yang sudah punya nama saja.
Pada suatu ketika, kota Baghdad didatangi seorang penyebar agama Yahudi yang bernama Dahri. Kedatangannya mencetuskan kegemparan di kalangan umat Islam Baghdad. Dahri mencoba merusakkan pegangan umat Islam dengan mengetengahkan soal-soal yang ada kaitannya dengan ketuhanan.
Dahri menantang siapa saja yang berani berdebat dengannya. Tantangan itu disambut hebat oleh alim ulama Baghdad. Tetapi apa yang menyedihkan, Dahri tidak pernah kalah setiap kali berdebat. Hujjah-hujjahnya gagal dipatahkan sampai akhirnya tidak ada lagi ulama Baghdad yang sanggup berdebat dengannya. Hingga khalifah memerintahkan menterinya meninjau ke daerah lain kalau masih ada ulama yang dapat dibawa untuk berhadapan dengan Dahri.
Akhirnya wakil khalifah menemui seorang ulama yang belum berdebat dengan Dahri. Namanya Hamad. Khalifah memerintahkan supaya hari perdebatan antara Hamad dan Dahri disegerakan. Dan pertemuan bersejarah itu mesti dibuat di mesjid jamik (masjid Agung) di tengah-tengah kota Baghdad.
Sehari kemudian, masjid jamik penuh sesak dengan orang. Masing-masing menaruh harapan agar Hamad berhasil menumbangkan Dahri karena hanya Hamad satu-satunya ulama yang masih tertinggal.
Seperti biasanya, sebelum menyampaikan makar jahatnya, Dahri akan menantang dan meleceh-lecehkan alim ulama Islam yang telah ‘ditewas’kannya. Dan dengan bersuara lantang dari atas panggung, dia menantang lagi kalau seandainya ada yang berani.
Tiba-tiba muncul Nu’man (Imam Abu Hanifah) yang ketika itu masih kecil. Beliau adalah murid Hamad. Berkata Nu’man dari bawah panggung, “Apakah pertanyaanmu wahai Dahri? Cobalah kemukakan agar dapat dijawab oleh yang mengetahui.”
Dahri tersenyum ketika menyadari yang meminta soal darinya seorang anak kecil.
Berkata Dahri, “Siapa kamu, wahai anak kecil? Adakah engkau mau menjawab pertanyaanku sedangkan sebelum ini sudah banyak alim ulama yang berserban dan berjubah panjang telah aku kalahkan.”
“Wahai Dahri,” balas Nu’man, “Sesungguhnya Allah tidak mengaruniakan kemulaiaan dan kebesaran itu kepada orang yang berserban besar dan yang berjubah labuh, tetapi Allah karuniakan kepada orang-orang yang berilmu.”
Nu’man lalu membacakan sebuah Firman Allah yang artinya, ”Allah telah meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu di antara kamu beberapa derajat.”
Tanpa diselangi dengan percakapan yang panjang, Dahri pun mengajukan pertanyaan yang pertama:
“Apakah Allah itu ada?”
Jawab Nu’man,”Ya. Wajib Allah itu ada”.
Tanya Dahri,”Kalau ada, di manakah tempatnya?”
“Wahai Dahri? Apakah engkau punya nyawa? Kalau ada, di manakah letaknya nyawamu?”
Tersentak Dahri ketika pertanyaannya dijawab dengan jawaban yang benar-benar mengujinya. Dahri mengajukan pertanyaan yang kedua setelah seketika Imam Abu Hanifah memberikan lagi hujjah-hujjah lain berhubungan dengan pertanyaan tadi.
Tanya Dahri, “Adakah sesuatu yang wujud sebelum wujudnya Allah dan apakah sesudahnya?”
Nu’man menjawab,”Sesungguhnya wujud Allah tidak didahului oleh sesuatu dan tidak diakhiri oleh sesuatu juga.”
“Tidak bisa diterima oleh akal barang yang ada tanpa permulaan dan tanpa kesudahan,” hujjah Dahri.
“Adakah jari lain sebelum ibu jarimu? Dan adakah jari lain sesudah jari kelingkingmu?”, balas Nu’man dengan pertanyaan lagi. Dahri terpegun. Nu’man memberikan beberapa hujjah yang lain dengan jelas.
Dahri mulai merasa tertantang. Kata Dahri menahan perasaan yang kurang enak, “Baiklah, ini pertanyaanku yang terakhir. Apakah pekerjaan Tuhanmu ketika ini?”
Pertanyaan tersebut membuatkan Nu’man tersenyum riang. Kata beliau, “Wah… ini pertanyaan yang sungguh menarik. Jadi, perlu dijawab dari tempat yang tinggi supaya dapat didengar oleh semua orang. Dahri turun dari pentasnya, memberi tempat untuk Imam Hanafi yang masih anak-anak itu, menjawab pertanyaan yang terakhir. Sambil berdiri gagah di atas panggung, berteriaklah Imam Abu Hanifah, “Wahai manusia sekalian, ketahuilah oleh kalian, bahwa kerja Allah ketika ini adalah, menaikkan yang haq, dan menjatuhkan yang bathil sebagaimana Allah menaikkan aku ke panggung ini, dan menurunkan Dahri ke bawah”.
Seiring dengan itu. Bergemalah pekikan takbir untuk merayakan kemenangan Imam Abu Hanifah.
Pada tahun-tahun akhir kehidupannya, yaitu ketika Bani Abbasiyiah telah mengambil alih pemerintahan, Imam Abu Hanifah dipilih untuk memegang jabatan ketua bendahara negara baitul mal, tetapi beliau menolaknya hingga gubernur Yazid bin Ammar sewaktu menjadi gubernur di Iraq merasa tidak senang. Pada waktu lain Yazid menawarkan jabatan kadhi kepada Imam Abu Hanifah, tetapi juga ditolak, sepreti beliau menolak jabatan yang sama yang pernah ditawarkan oleh Khalifah Marwan.
Yazid memanggil para alim ulama terkemuka di Iraq. Imam Abu Hanifah juga diundang tetapi beliau tidak hadir. Baginda menyerahkan jabatan-jabatan penting kepada alim ulama yang hadir. Kata Yazid, “Kalau Imam Abu Hanifah tidak mau menerima jabatan yang ditawarkan kepadanya, dia akan dipukul,” ancaman Gubernur disampaikan kepada Imam Abu Hanifah. Namun pendiriannya tetap tidak berubah. Gubernur tidak dapat lagi menahan marahnya. Imam Abu Hanifah ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Beliau dijatuhi hukuman cambuk sebanyak 110 cambukan. Ketika hukuman itu tidak mengubah pendirian Imam Abu Hanifah, beliau pun dibebaskan.
Waktu terus berjalan. Kepemimpinan pemerintahan berganti tangan. Namun pemerintah Iraq terus menawarkan jabatan penting negara kepada Imam Abu Hanifah. Tetapi setiap kali itu juga ditolak olehnya.
Puncak dari usaha-usaha itu, Imam Abu Hanifah dipenjara lagi. Beberapa lama dalam kurungan, gubernur memanggilnya ke Istana. Beliau disuguhkan segelas air yang bercampur racun. Gubernur memaksanya minum air itu.
Setelah meminum air itu, Imam Abu Hanifah diantar kembali ke penjara. Sesaat setelah itu, kematian pun datang menjemputnya. Berakhirlah hayat seorang ulama besar. Usianya ketika itu 70 tahun