Dahsyatnya Sedekah

Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar

Sahabatku, dimanakah letak kedahsyatan hamba-hamba Allah yang bersedekah? Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut :

Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptkana gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? "Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?"

Allah menjawab, "Ada, yaitu besi" (Kita mafhum bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi).

Para malaikat pun kembali bertanya, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?"

Allah yang Mahasuci menjawab, "Ada, yaitu api" (Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api).

Bertanya kembali para malaikat, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?"

Allah yang Mahaagung menjawab, "Ada, yaitu air" (Api membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).

"Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?" Kembali bertanya para malaikta.

Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, "Ada, yaitu angin" (Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat).

Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, "Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?"

Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab, "Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya."

Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.

Inilah gambaran yang Allah berikan kepada kita bagaimana seorang hamba yang ternyata mempunyai kekuatan dahsyat adalah hamba yang bersedekah, tetapi tetap dalam kondisi ikhlas. Karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu akan pujian, penghormatan, penghargaan, ucapan terima kasih, dan sebagainya. Kita pun selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa yang ada pada diri kita ataupun segala apa yang bisa kita lakukan. Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan.

Karenanya, tidak usah heran, seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas adalah orang-orang yang mempunyai kekuatan dahsyat. Sungguh ia tidak akan kalah oleh aneka macam selera rendah, yaitu rindu pujian dan penghargaan.

Apalagi kedahsyatan seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas? Pada suatu hari datang kepada seorang ulama dua orang akhwat yang mengaku baru kembali dari kampung halamannya di kawasan Jawa Tengah. Keduanya kemudian bercerita mengenai sebuah kejadian luar biasa yang dialaminya ketika pulang kampung dengan naik bis antar kota beberapa hari sebelumnya. Di tengah perjalanan bis yang ditumpanginya terkena musibah, bertabrakan dengan dahsyatnya. Seluruh penumpang mengalami luka berat. Bahkan para penumpang yang duduk di kurs-kursi di dekatnya meninggal seketika dengan bersimbah darah. Dari seluruh penumpang tersebut hanya dua orang yang selamat, bahkan tidak terluka sedikit pun. Mereka itu, ya kedua akhwat itulah. Keduanya mengisahkan kejadian tersebut dengan menangis tersedu-sedu penuh syukur.

Mengapa mereka ditakdirkan Allah selamat tidak kurang suatu apa? Menurut pengakuan keduanya, ada dua amalan yang dikerjakan keduanya ketika itu, yakni ketika hendak berangkat mereka sempat bersedekah terlebih dahulu dan selama dalam perjalanan selalu melafazkan zikir.

Sahabat, tidaklah kita ragukan lagi, bahwa inilah sebagian dari fadhilah (keutamaan) bersedekah. Allah pasti menurunkan balasannya disaat-saat sangat dibutuhkan dengan jalan yang tidak pernah disangka-sangka.

Allah Azza wa Jalla adalah Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya. Bahkan kepada kita yang pada hampir setiap desah nafas selalu membangkang terhadap perintah-Nya pada hampir setiap gerak-gerik kita tercermin amalan yang dilarang-Nya, toh Dia tetap saja mengucurkan rahmat-Nya yang tiada terkira.

Segala amalan yang kita perbuat, amal baik ataupun amal buruk, semuanya akan terpulang kepada kita. Demikian juga jika kita berbicara soal harta yang kini ada dalam genggaman kita dan kerapkali membuat kita lalai dan alpa. Demi Allah, semua ini datangnya dari Allah yang Maha Pemberi Rizki dan Mahakaya. Dititipkan-Nya kepada kita tiada lain supaya kita bisa beramal dan bersedekah dengan sepenuh ke-ikhlas-an semata-mata karena Allah. Kemudian pastilah kita akan mendapatkan balasan pahala dari pada-Nya, baik ketika di dunia ini maupun saat menghadap-Nya kelak.

Dari pengalaman kongkrit kedua akhwat ataupun kutipan hadits seperti diuraikan di atas, dengan penuh kayakinan kita dapat menangkap bukti yang dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya, bahwa sekecil apapun harta yang disedekahkan dengan ikhlas, niscaya akan tampak betapa dahsyat balasan dari-Nya.

Inilah barangkali kenapa Rasulullah menyerukan kepada para sahabatnya yang tengah bersiap pergi menuju medan perang Tabuk, agar mengeluarkan infaq dan sedekah. Apalagi pada saat itu Allah menurunkan ayat tentang sedekah kepada Rasulullah SAW, "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir; seratus biji Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui," demikian firman-Nya (QS. Al-Baqarah [2] : 261).

Seruan Rasulullah itu disambut seketika oleh Abdurrahman bin Auf dengan menyerahkan empat ribu dirham seraya berkata, "Ya, Rasulullah. Harta milikku hanya delapan ribu dirham. Empat ribu dirham aku tahan untuk diri dan keluargaku, sedangkan empat ribu dirham lagi aku serahkan di jalan Allah."

"Allah memberkahi apa yang engkau tahan dan apa yang engkau berikan," jawab Rasulullah.

Kemudian datang sahabat lainnya, Usman bin Affan. "Ya, Rasulullah. Saya akan melengkapi peralatan dan pakaian bagi mereka yang belum mempunyainya," ujarnya.

Adapun Ali bin Abi Thalib ketika itu hanya memiliki empat dirham. Ia pun segera menyedekahkan satu dirham waktu malam, satu dirham saat siang hari, satu dirham secara terang-terangan, dan satu dirham lagi secara diam-diam.

Mengapa para sahabat begitu antusias dan spontan menyambut seruan Rasulullah tersebut? Ini tiada lain karena yakin akan balasan yang berlipat ganda sebagaimana telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Medan perang adalah medan pertaruhan antara hidup dan mati. Kendati begitu para sahabat tidak ada yang mendambakan mati syahid di medan perang, karena mereka yakin apapun yang terjadi pasti akan sangat menguntungkan mereka. Sekiranya gugur di tangan musuh, surga Jannatu na’im telah siap menanti para hamba Allah yang selalu siap berjihad fii sabilillaah. Sedangkan andaikata selamat dapat kembali kepada keluarga pun, pastilah dengan membawa kemenangan bagi Islam, agama yang haq!

Lalu, apa kaitannya dengan memenuhi seruan untuk bersedekah? Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala dan pelipat ganda rizki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah!

Sahabat, betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah yang disertai dengan hati ikhlas, sampai-sampai Allah sendiri membuat perbandingan, sebagaimana tersurat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, seperti yang dikemukakan di awal tulisan ini

Strategi Aman dari Tipuan Syaitan

Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar

Strategi Aman Dari Tipuan Syaitan

Saudaraku, satu hal yang sering kita lupakan dalam hidup ini, yaitu menyadari akan keberadaan syaitan. Syaitan, walaupun wujudnya tidak terlihat oleh mata, namun hasilnya sangat nyata. Terbukti dengan banyak manusia yang terjerat akan tipuannya, gelap mata akibat kekhilafannya. Salah satu tipuan syaitan yang kerap mengelabui yaitu melalui hawa nafsu. Karena itu yang menjadi kendaraan syaitan dalam menjalankan tugasnya mencelakakan manusia. Beberapa tabiat hawa nafsu jahat yang perlu kita waspadai diantarnaya nafsu senang pada penghargaan diri. Selain itu, syaitan sangat senang menyuruh kita agar mengumbar nikmat secara berlebihan. Dalam Al Quran digambarkan secara jelas bahwa Allah SWT menciptakan syaitan sebagai musuh bagi orang-orang beriman. Dengan keperkasaannya ia mampu menguasai diri kita. Kalau kita tidak peduli pada syaitan, dia sangat peduli pada kita.

Kita tidak bisa melihat wujudnya, tapi dia sangat memperhatikan kita. Dan, syaitan benar-benar terintegrasi kekuatannya untuk tolong-menolong. Jika kita kurang waspada bersiap-siaplah diri kita dikuasainya. Kendaraan syaitan adalah nafsu, syahwat, dan keinginan. Orang yang tidak mampu mengendalikan keinginannya akan habis dia gunakan untuk memperturutkan nafsunya.. Dan orang yang dikuasai nafsu syaitan selalu merasa diri paling benar. Ia merasa apa yang dilakukan merupakan kebenaran yang tidak mungkin salah. Sedangkan apa yang dilakukan orang lain adalah kesalahan yang tidak mungkin benar. Selain itu, ia senantiasa menyepelekan orang lain dan segala yang dilakukan diniatkan karena ingin dipuja dan dipuji orang lain. Amat rugilah orang yang selalu mengandalkan nafsunya untuk memenuhi keinginan. “ Padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain tipuan belaka.” (QS. An-Nisa [4]:120).

Dua strategi penting yang membuat kita lebih aman dari tipuan syaitan. Pertama, banyak berlindung kepada Allah. Karena Dia-lah yang menguasai makhluk-makhluk (termasuk syaitan). Kalau bukan berlindung kepada Allah lalu kepada siapa lagi. Hanya Allah-lah sebaik-baik pelindung. “Dan apabila hamba-hambaku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku. Agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah [2]:186)

Kedua, kuasai nafsu yaitu dengan mengendalikan diri. Setiap saat, setiap waktu, syaitan selalu mencari peluang. Kalau kita kurang pintar mengendalikan diri bersiap-siaplah menjadi pelayan syaitan. Tabiat hawa nafsu salah satunya sangat enggan pada ketaatan. Beribadah malas, begitu juga dalam beramal, kalau tidak menguntungkan dirinya, lebih baik tidak dilakukannya. Kalau orang makin disukai Allah yang dibukakan ke orang tersebut adalah kekurangan, sedangkan ke orang lain yang dibukakan kelebihannya. Sebaliknya, orang yang tidak disukai Allah, dia membukakan kepada dirinya kelebihan kepada Allah, memperlihatkan kepada orang lain kejelekannya. Dia melihat dirinya paling baik. Naudzubillah . Saudaraku, sesungguhnya syaitan tidak akan pernah pensiun selama manusia ada dalam ketaatan kepada Allah. Oleh sebab itu, marilah kita tingkatkan keimanan kita. Wallahu a’lam bish showab

Bulan Pengendalian Diri

Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar

Mengendalikan Diri di Bulan Suci Saudaraku, ramadhan merupakan bulan pengendalian diri. Bulan yang setiap amal tidak lepas dari pencatatan Allah. Maka sudah menjadi keniscayaan bagi kita untuk menjaga diri dari perbuatan tercela.. Sesungguhnya Allah sangat berkuasa atas segala sesuatu. Tidak ada sesutau yang terjadi tanpa seizin-Nya. Maka hati-hatilah terhadap mata, tangan, pikiran, mulut, hati kita jangan sampai lepas kendali. Karena mudah bagi Allah untuk mengambilnya kembali. Mata kita arahkan semaksimal mungkin untuk melihat hal yang bermanfaat, demikian pula pikiran, jauhi hal-hal yang berbau maksiat. Dalam ramadhan kali ini usahakan menghindari perkataan tercela atau dengan kata lain kita harus mampu kendalikan lisan kita. Lisan yang setiap tutur katanya membawa pengaruh, dapat dipastikan untuk tetap terjaga. Hindari ghibah atau mengumpat.orang lain.

Ketika menjalankan shaum, bukan hanya menahan makan dan minum saja, tetapi juga menahan diri dari segala kata-kata dan sikap yang tercela agar shaum kita tidak hanya mendapatkan lapar dan haus saja. Rasulullah SAW bersabda : “Banyak di antara yang shaum, tapi hasilnya lapar dan dahaga saja.” (HR Ibnu Khuzaimah). Dalam hadis yang lain Rasulullah bersabda: : “Shaum itu perisai, maka apabila salah seorang diantara kalian shaum, janganlah ia menuturkan kata-kata yang keji dan janganlah ia menghingar-bingarkan, jika ada seseorang memarahinya atau memukulinya, hendaklah ia mengatakan saya sedang shaum.” (HR Muslim).

Tentunya keteladanan Rasulullah tersebut sangat patut kita tiru, sehingga tujuan dalam menjalankan ibadah shaum di bulan ini, diharapkan mengalami peningkatan kualitas ibadahnya dibanding tahun-tahun sebelumnya..Hal lain yang harus dijaga adalah hati, hati kita harus dijaga di bulan yang suci ini, karena hati merupakan lintasan kedua setelah pikiran, selanjutnya bagaimana kita mampu mengelola tindakan kita. Bisa kita bayangkan seandainya hati ini tidak terjaga tentu akan mengakibatkan banyak bencana yang akan terjadi. Yang berakibat pada akhirnya hati akan keras yang berujung mati. Na’udzubillah Begitu pula kendalikan telinga kita ini, hindari dari sesuatu yang tidak membawa manfaat. Jauhi musik-musik, obrolan yang tiada guna, begitu pula jaga tangan kita. Jika tidak kita gunakan dengan sebaik-baiknya, maka akan membawa petaka.

Selanjutnya kita tingkatkan ibadah sosial kita, di bulan yang penuh naungan berkah dan ampunan, dapat berupa sedekah. Dalam sebuah hadis, disebutkan : “Rasulullah adalah sebaik-baik manusia, seberani-berani manusia, dan semurah-murah tangan di antara manusia.” (HR Bukhari Muslim). Rasulullah sangatlah dermawan dan paling suka membantu dan menolong orang lain, apalagi di bulan Ramadhan. Dalam hadis lain, beliau bersabda : “Sedekah yang paling utama adalah sedekah yang dikeluarkan di bulan Ramadhan.” (HR. Tirmidzi). Oleh karena itu, alangkah baiknya di bulan ini sebagai sarana kita mengendalikan diri, sudah saatnya waktu yang kita lalui benar-benar sebagai sarana taqarub kita pada Allah SWT. Wallahu a’lam bish showab .

Awal-awal Agama Mengenal ALLAH

Rasulullah SAW berjuang selama tiga belas tahun di Makkah. Itulah masa Rasulullah berdakwah dan menghimpun para pengikutnya. mula-mula secara sembunyi-sembunyi dan kemudian secara terang-terangan. Dalam masa tiga belas tahun itu, Rasulullah hanya ‘membawa Tuhan’ kepada para Sahabat dan memperkenalkan para Sahabat kepada Tuhan. Dalam majelis yang resmi atau tidak resmi, dalam keramaian, apabila sedang berjalan-jalan dengan para Sahabat, bahkan di setiap waktu Rasulullah menceritakan tentang Allah dan hari Akhirat. Tentang kebesaran, kesucian dan kekuasaan-Nya. Tentang kasih sayang dan keampunan-Nya. Tentang kuasa dan iradah-Nya dan tentang segala sifat yang ada pada Tuhan. Segala sifat-sifat Allah itu sangat-sangat dihayati oleh para Sahabat hingga mereka menjadi amat kenal dengan Tuhan. Bukan sekedar tahu, tetapi sangat kenal. Mereka menjadi orang-orang yang arifbillah. Hati-hati mereka sangat dekat dengan Tuhan, sangat sensitif dan peka dengan Tuhan. Mereka sangat menghayati kebesaran dan keagungan Tuhan.

Akhirnya jadilah para Sahabat orang-orang yang sangat cinta dan takut kepada Tuhan. Dalam hidup mereka, Allah lah yang menjadi perhatian utama. Allah lah yang bertakhta di hati-hati mereka. Banyak di kalangan Sahabat yang menjadi begitu takut dan rindu pada Tuhan dan karenanya hanya Tuhan yang memenuhi fikiran dan perasaan mereka. Perasaan takut dan cinta ini sangat kuat dan mendalam hingga adakalanya hati-hati para Sahabat tidak dapat menanggung bebannya. Ada Sahabat yang langsung mati ketika mengingat kebesaran Allah. Ada yang mati ketika ada orang menyebut nama Allah. Sementara yang jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri lebih banyak lagi. Bila disebut nama Allah, gementar hati-hati mereka. Namun dengan hati yang begitu tergila-gila dan rindu pada Tuhan, mereka tidak mempunyai jalan atau cara untuk melepaskan perasaan mereka. Mereka tidak ada cara untuk berhubungan atau berinteraksi dengan Tuhan. Maka terpaksa mereka menanggung dan memendam rasa cinta dan rindu itu. Mereka seolah-olah orang yang begitu dahaga tetapi tidak mendapat air untuk diminum. Mereka seperti orang yang sangat kelaparan tetapi tidak ada apa-apa untuk dimakan.

Mereka seperti orang yang sangat merindukan Kekasih Agungnya tetapi tidak dapat bertemu untuk memuji-muji dan meluahkan segala perasaan yang terpendam dan tercetus di hati. Allah biarkan saja mereka jadi begitu. Hanya pada tahun yang kesebelas, baru berlaku peristiwa Isra' Mi'raj. Jadi, baru pada tahun kesebelas datang
perintah shalat. Itulah satu hadiah yang sangat besar yang Allah kurniakan kepada para Sahabat supaya mereka dapat berinteraksi dan berhubung dengan-Nya. Supaya mereka dapat melepaskan segala perasaan rindu yang selama ini mereka tanggung. Supaya mereka dapat mengadu, berbicara, berbisik-bisik dan meminta-minta kepada Tuhan. Supaya mereka dapat meluahkan segala isi hati mereka dan bermanja-manja dengan Tuhan. Sungguh shalat itu suatu karunia yang amat besar bagi para Sahabat. Ia ibarat air di kala dahaga. Ia ibarat makanan di kala lapar. Ia ibarat pertemuan dengan kekasih yang sangat dirindukan.

Shalat menjadi buah hati Rasulullah dan para Sahabat. Shalat adalah istirahat/relaksasi bagi mereka. Rasulullah SAW pernah bersabda:

Maksudnya: “Shalat adalah penyejuk mataku.”

Baginda juga pernah menyuruh Sayidina Bilal r.a. untuk azan dengan berkata:

“Wahai Bilal, berilah istirahat kepada kita semua!”

Demikianlah kedudukan shalat di hati Rasul dan para Sahabat. Tidak heranlah mereka tenggelam di dalam shalat. Mereka ‘mi'raj’ di dalam shalat. Tidak heran juga, ketika shalat,mereka lupa tentang dunia ini dan segala isinya baik yang berupa nikmat maupun kesusahan. Mereka asyik dan masyuk dengan Tuhan dalam shalat. Sayidina Ali k.w. lantaran khusyuknya di dalam shalat, tidak terasa apa-apa ketika dicabut anak panah dari betisnya. Shalat mereka yang sebeginilah yang telah menjadikan mereka pribadi-pribadi agung. Agung keimanan mereka. Agung keyakinan mereka dan agung akhlak mereka. Allah kurniakan kepada mereka 3/4 dunia dan semua bangsa bernaung di bawah kekuasaan mereka. Mereka membawa kedamaian dan keselamatan. Mereka penuhi dunia ini dengan keadilan dan kebahagiaan. Di sini kita sungguh-sungguh dapat melihat konsep pendidikan Rasulullah, yaitu awaludin ma'rifatullah. Awal-awal
agama mengenal Allah.

Para Sahabat dikenalkan kepada Allah hingga mereka menjadi orang-orang yang arifbillah, yaitu orang-orang yang sangat takut, cinta dan rindu kepada Allah dan orang-orang yang mabuk cinta dengan Allah. Dalam keadaan begitulah baru mereka diperintahkan untuk shalat dan menegakkan syariat Allah. Keseluruhan perintah syariat yang beribu-ribu itu diturunkan di Madinah. Ia hanya memakan waktu 10 tahun,
dibanding memperkenalkan Tuhan yang esa itu, yang memakan waktu 13 tahun di Makkah. Orang-orang yang menegakkan syariat Allah di Madinah itu sebenarnya ialah orang-orang yang sudah teramat takut dan cinta pada Tuhan. Orang-orang yang arifbillah. Hanya orang-orang seperti ini sahaja yang mampu menegakkan syariat Allah. Yang mampu memperjuangkan agama Allah. Yang mampu berkorban ke jalan Allah. Itulah kelemahan umat Islam hari ini. Sekedar tahu tentang Tuhan. Sekedar ada ilmu tentang Tuhan. Sekedar alimbillah. Tuhan masih di akal saja, belum di hati. Belum ada rasa bertuhan.


Belum ada rasa kehambaan. Jauh sekali dari memiliki rasa takut, rindu dan cinta pada Tuhan. Lebih-lebih lagi, belum mabuk cinta dengan Tuhan. Dalam kondisi begini, mereka disodok dengan shalat dan syariat. Disuruh dirikan shalat. Disuruh tegakkan syariat. Diperkenalkan hukum hudud dan sebagainya.

Orang yang belum kenal Tuhan dan orang yang belum memiliki rasa takut dan cinta pada Tuhan, mereka tidak akan mampu mendirikan shalat dan menegakkan syariat. Kalau pun mereka melakukannya, ia dilakukan secara terpaksa. Melakukan kerja secara terpaksa memang pahit, sakit dan perih. Sulit untuk istiqomah. Kenapa kita tidak membawa Tuhan kepada mereka? Kenapa tidak kitauperkenalkan Tuhan kepada mereka? Kalau manusia betul-betul kenal Tuhan, mereka tidak akan dapat mengelak diri dari jatuh cinta dan rindu kepada-Nya. Mereka tidak akan dapat mengelak diri dari mau berbakti kepada-Nya untuk merebut cinta dan kasih sayang-Nya. Bagaimana bisa kita tidak sayang dan tidak jatuh hati kepada Allah yang begitu berbakti, begitu menjaga, begitu mengawasi dan memenuhi segala keinginan dan keperluan kita. Yang penuh kasih dan belas kasihan kepada kita. Yang menyayangi kita lebih dari ibu kita sendiri. Yang menjaga kita siang dan malam tanpa istirahat dan tanpa tidur. Yang tidak pernah melupakan kita.

Marilah kita kembalikan manusia kepada Tuhan. Marila kita perkenalkan Tuhan itu kepada manusia supaya manusia kenal akan Tuhan. Karena awal-awal agama adalah mengenal Tuhan. Selagi kita belum kenal Tuhan, selagi itu kita belum mampu untuk beragama atau untuk menegakkan agama. Mengenal Tuhan itu tidak cukup sekedar tahu tentang Tuhan atau tahu tentang sifat-sifat Tuhan secara ilmunya, tetapi bagaimana merasakannya di hati. Hati mendapat rasa bertuhan, hati merasa Tuhan sentiasa melihat, hati merasa Tuhan itu Maha Mendengar, hati merasakan Tuhan itu berkuasa berbuat apa saja kepada hamba-Nya, hati merasakan Tuhan itu pengasih dan penyayang, yang sentiasa mencurahkan rezeki kepada hamba-Nya.

Setelah hati memiliki rasa bertuhan, secara otomatis hati akan dipenuhi rasa kehambaan, yaitu rasa lemah, rasa berdosa, rasa bergantung mengharap kepada-Nya. Hati merasa takut dan cinta pada Tuhan sepertimana yang dirasakan oleh para Sahabat yang dididik oleh Rasulullah lebih 1400 tahun yang lalu.

Dosa-dosa Besar Yang Tidak Disadari

Terima kasih Tuhan, karena dengan rahmatMu banyak peringatan-peringatan yang Engau beri untuk kami agar kami membaiki diri. Kami rasa ini satu hadiah yang besar dari Engkau. Selawat dan salam kepada junjungan besar Nabi Muhamad RSAW, karena engkau ya Rasulullah kami dapat meneruskan kuliah kali ini. Moga-moga kami pandai bersyukur dan dapat membanyakkan selawat kepada nabi kami.

Karena ilmu kita tidak banyak, tidak halus, banyak kesalahan yang kita tak tahu, banyak ilmu yang seni-seni yang kita tidak paham. Kita telah buat kesalahan tanpa kita sadari. Kita telah buat dosa-dosa besar tapi tidak tahu. Kita banyak buat kesalahan dengan Tuhan tapi tidak sadar. Jadi yang kurang pada kita ialah ilmu-ilmu seni. Bila ilmu-ilmu seni itu kita tidak paham, pada saya, pada orang lain saya tidak tahu, makin banyak kita ibadah makin banyak kita tertipu. Makin kita mau menjadi orang baik malah menjadi tidak baik. Makin banyak kita beribadah makin jahat kita dengan Tuhan, karena ilmu kita tidak dapat menyuluh diri kita, sebab ilmu Tuhan itu sangat seni. Sangat tersirat.

Sebenarnya ilmu yang seni-seni, ilmu yang tersirat itu yang dapat mengobati hati. Ilmu lain tidak dapat mengobati, kadang-kadang dia menipu kita, ilmu lahir tidak terasa apa-apa. Bila tidak terasa apa-apa, makin banyak kita berbuat, kita sudah merasa luar biasa, kita kurang ajar dengan Tuhan, kita sudah rasa paling hebat. Ini adalah suatu dosa dengan Tuhan tapi kita tidak sadar, kita sudah tidak takut dengan Tuhan. Sedangkan itu kesalahan besar dan dosa besar. Jadi kalau ilmu kita tidak seni, makin berbuat baik jadi semakin tidak baik. Inikan aneh didengar, kalau orang tidak pernah dengar ilmu ini, tentu dia pikir ini ajaran sesat. Sebenarnya dosa-dosa besar ada 2 bagian:

1. Dosa-dosa yang lahir
2. Dosa-dosa yang batin


Orang yang beragama, yang mau juga pada Islam, kalau ilmunya tidak seni, tidak halus, ilmu yang tersirat tidak tercungkil, dia tidak terjebak dengan dosa-dosa besar lahir (yang nampak oleh mata lahir). Sebab dia mau beragama juga, yang lahir ini mudah dikesan. Tapi orang ini akan terjebak dengan dosa-dosa besar yang batin.

Bagi yang jenis tidak pikir agama, dosa-dosa besar yang lahir pun dia tidak ambil perhatian apa lagi yang batin.

Bagi orang yang sedikit ingin beragama insyaAllah dosa-dosa lahir dia tidak buat seperti zina, mencuri, minum arak, judi, menipu...itu semua dosa-dosa besar dia tidak buat. Dia tidak akan berzina, melacur. Nah disitu dia akan tertipu diri "Aku tidak buat dosa besar, berarti bersih aku ini!" Dia merasa baik. Makin baik lahirnya yang dalam makin jahat. Makin cantik di luar makin buruk di dalam. Makin bercahaya yang lahir, yang dalam makin gelap.

Sebab itu para sahabat salafusoleh dan orang-orang yang bertaqwa bukan takut dengan dosa-dosa besar yang lahir tapi yang ditakuti ialah dosa-dosa besar yang batin terutama syirik. Dikalangan salafusoleh, para sahabat pernah berkata kalau aku mati dikamar aku ini mati sebagai orang beriman, sedangkan kalau aku pergi ke tangga rumah ini mati syahid, itu besarlah. Saya mau mati di bilik saja, kenapa? Padahal jarak bilik dengan tangga itu 2-3 meter saja, dia takut jalan dari bilik ke tangga dia jadi syirik. Apa maksudnya?

Begitulah orang bertaqwa bimbangnya dengan syirik, bimbang dengan Tuhan. Dengan jarak 2-3 meter dia tidak yakin dirinya selamat dari syirik walaupun di tangga dijanjikan mati syahid. Tidak apa-apa yang penting aku dapat mati beriman cukuplah. Kalau masuk neraka tidak kekal, daripada mengharapkan mati syahid tapi dapat mati kafir. Begitulah hati orang beriman, adakah hati kita macam itu? Hati orang mukmin bergolak, tidak tahu nasib aku seperti apa. Dari saat ke saat dia takut, tidak tahu bagaimana nasibnya.

Bagi orang beragama, memang dia tidak buat dosa-dosa besar yang lahir. Kalau ilmu dia tidak halus, di situ dia akan rusak, dia akan berbuat dosa besar yang batin. Bila orang memuji, hati berbunga, itu dosa besar. Terpikirkah itu dosa besar? Itu yang saya maksudkan dia akan menipu kita, karena disebabkan kita tak buat dosa besar yang lahir itu jadi dia menipu kita.

Dalam pengalaman kita orang yang beribadah kuat, kalau kita tegur dia akan jawab "Saya tidak buat salah. Tidak, saya tidak berbuat itu!" Kenapa? Karena dia tidak nampak di dalam, di luar ok. Kalau dilihat, kebaikan yang diluar menipu diri. Kebaikan yang diluar merusakkan batinnya. Cahaya yang terang di luar menggelapkan dalam. Bila kita berhasil dalam ibadah, kita merasa luar biasa dan ujub, itu dosa besar, terpikirkah itu dosa besar? Tidak! itu berlalu begitu saja padahal kita sudah melakukan dosa besar.

Contoh lain, terlintas dalam fikiran "Kalau aku berjuang/berdakwah, bagaimana mau makan, anak banyak, isteri banyak?" Dosa ini lebih besar daripada contoh yang awal tadi, sebab ini sudah masuk kawasan syirik, merusakkan akidah. Terpikirkah kita, pikiran seperti itu sudah merusakkan akidah? Sebab itu dosa batin, yang susah dikesan oleh orang biasa.

Bagi orang yang ingin mengikuti Tuhan, dosa lahir itu seperti mendengar suara gajah. Dari jauh sudah terdengar, gedebuk-gedebuk suara gajah, jadi mudah untuk mengelak.

Tapi dosa batin seperti bunyi semut, tidak terdengar, tidak ada. Bila tidak ada maka tidak rasa bahaya. Bila gajah berjalan, semut berjalan dan sama-sama berbunyi. Tapi gajah mudah dikesan kesak kesuk kesak kesuk, kalau semut berjalan di tepi telinga kita pun tidak dengar. Kita sudah buat dosa besar tapi karena kita tidak paham, jadi kita berkata kita tidak buat.

Jadi banyak orang yang buat dosa besar batin. Untuk orang yang ingin beragama tapi ilmunya tidak ada, tidak halus maka dia akan banyak buat dosa besar batin. Seperti orang lain dapat kesenangan, terdetik hati kita merasa tidak senang, itu dosa....mana kita terfikir itu dosa? Kalau orang dapat kesusahan, kita tidak merasa susah, itu dosa...terpikirkah kita itu dosa? Bagaimana bisa orang susah kita tidak rasa susah, dimana perikemanusiaan kita? Itu tanda hatinya sudah bangkrut, tidak susah dengan kesusahan orang.

Pernahkah kita menungkan, "Eh, aku ini banyak dosa sebab aku tidak terasa susah dengan kesusahan orang lain." Tapi kalau minum arak "Astaghfirullah hal `azim aku telah minum arak". Setahun dia dapat ingat. Atau kalau berzina setahun dia akan ingat. Main di otak, tidak tenang.

Tapi tidak merasa susah dengan kesusahan orang, adakah bermain-main di otak? Tidak! Dia berada dalam keadaan leluasa tidak berasa berdosa dengan Tuhan. Jelas tidak ilmunya? Sebab itu kalau ilmu tidak halus, tidak seni, banyak ilmu tersirat kita tidak tahu maka banyak dosa-dosa batin kita buat tanpa disadari.

Ilmu-ilmu tersirat, ilmu-ilmu seni itulah ilmu tasawuf, itulah ilmu rohani. Banyak dosa-dosa batin yang kita buat tidak tahu. Lebih-lebih lagi sembahyang banyak, ibadah banyak, wirid zikir banyak, kerja-kerja umrah/haji sudah banyak tetapi tidak takut dengan Tuhan, sebab ditutup oleh kebaikan lahir tadi. Itu satu kejahatan paling besar. Sebab telah mencabut rasa kehambaan. Rasa kehambaan itulah yang Tuhan inginkan. Bila dicabut rasa kehambaan dia tidak nampak dosa besar. Bila rasa kehambaan tercabut datanglah rasa ketuanan, bila dibiarkan dia akan datang rasa keTuhanan. Musnah akidah dia, tidak bahaya kah?

Kadang-kadang orang yang lalai dengan Islam, sekejap sembahyang sekejap tidak sembahyang, sekejap puasa sekejap tidak puasa, tapi dia rasa bersalah. Dia sadar dia salah. Itu lebih selamat daripada orang yang jaga yang lahir, ibadah yang banyak dalam hati buat jahat, tidak merasa takut lagi. Yang tadi masih merasa takut lagi, dalam buat jahat dia merasa takut, rasa kehambaan masih kekal. Yang ini dia banyak buat secara luaran tidak merasa takut. Sebab di sisi Tuhan orang yang buat dosa terasa berdosa itu yang selamat. Orang berdosa rasa tak berdosa, itu yang rosak! Rasa berdosa, rasa bersalah, rasa kehambaan itulah yang Tuhan inginkan.

Kalau kita ambil yang lahir saja mungkin banyak ibadah yang makin rusak sebab dia tidak nampak kesalahan dirinya. Sebab itu orang zaman dulu, kalau ada orang tanya tentang hukum hakam kalau mau jaga hati dia akan berkata kalau langsung menjawab mungkin nanti ada rasa megah. Kamu pergilah tanya si Ahmad, bila sampai si Ahmad tanyalah si Yusuf, karena mau jaga hati. Dari Yusuf suruh pergi ke Mahmud juga. Akhirnya berputar sampai ke dia lagi karena tidak dapat mengelak dia pun akhirnya menjawab.

Sebab itu orang zaman dulu, kalau sangat ingin berdakwah, dia tidak jadi berdakwah. Waktu dia ingin bersyarah, dia menahan diri, sebab dia pikir jangan-jangan dorongan ini hanya untuk megah, untuk kepentingan diri. Syeikh Abdul Kadir Jailani selepas 30 tahun beribadah, buat itu buat ini, dia berdakwah. Sebab sebelum itu dia tidak berdakwah. Kadang orang bertanya mengapa tuan tidak berdakwah, kadang-kadang dia tidak menjawab sebab dia tahu mengapa dia tidak berdakwah. Setelah 30 tahun baru dia berdakwah, dia sudah jadi orang baik...mungkin mulai dari 30 tahun jadi sekarang sudah 60 tahun. Orang terkejut. Dia berkata "Saya sudah dapat arahan", baru dakwah, ada arahan dari Tuhan, ada bisikan dari pihak Tuhan baru dia berdakwah. Dia berhati-hati. Sebab itu sekali saja dia berdakwah, yang sudah baik terus jadi baik, yang dapat hidayah mendadak baik, yang jahat-jahat bergolak hati. Itu kesannya. Hari ini orang berdakwah tapi tidak ada kesan, mengapa? Sebab hati sangat ingin berdakwah, sangat senang jikamasuk surat kabar lagi seronok, jadi dakwah tidak dapat memberi kesan.

Sheikh Abu Yazid Bustami lepas berdakwah banyak orang sadar, kerajaan tidak senang, maka dibuang.7 tahun dibuang, 7 tahun negara bergolak. Panen gagal, kelaparan, kemarau, kemudian baru orang merasa dan mengadu ke Gabenor, "Tuan, sejak kita buang Yazid, keadaan jadi begini, ini sudah parah, coba bawa pulang Yazid". Dia pun kembali dan masalah selasai. Kesan rasa hati mereka, bergolak negara. Mana ada orang seperti ini sekarang. Masing-masing ingin berdakwah, tidak ada seorang pun masuk Islam, semua orang Islam tidak berubah, dirinya pun tidak berubah. Sebab dia berjuang tapi membawa dosa besar batin, bawa kejahatan batin, diluar bercahaya dalamnya gelap karena ilmunya tak seni, ilmu rohaninya tidak menyuluh batin, dia buat jahat tetapi tidak sadar, dia berdosa pun tidak sadar.

Ini semua faktor ilmu. Kalau ilmu kita tidak banyak, tidak global, tidak seni, makin kita baiki diri yang luar, makin terjun ke Neraka, makin terjun ke maksiat. Makin kita buat kejahatan tanpa kita sadar. Mesti berhati-hatilah, jangan sampai sembahyang, puasa, wirid kita menipu kita. Jangan ibadah kita merusakkan hati kita. Patutnya semakin banyak kita baiki diri semakin merasa bersalah, merasa berdosa, semakin merasa tak berguna, semakin merasa jauh dengan Tuhan. Itulah yang akan menyelamatkan kita.

Maksud Allah Memerintahkan Kita Berpuasa

Al-Quran menyebutkan bahwa tujuan berpuasa adalah untuk menjadi orang bertaqwa. Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 183, artinya:

“ Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagai mana yang diwajibkan ke atas orang-orang sebelum kamu supaya kamu bertaqwa”


Berpuasa rupanya dapat menjadikan seseorang hamba Allah bertaqwa kepada Tuhannya yakni jika Ramadhan dilalui dengan tepat dan penuh penghayatan. Kalau bukan begitu caranya, berpuasa di bulan Ramadhan hanya mendapatkan lapar, dahaga dan letih saja, hanya sia-sia belaka.

Dalam setahun kita telah melalui berbagai-bagai ujian hidup yang dapat merusakkan ketaqwaan kita kepada ALLAH. Bila manusia tidak bertaqwa, mereka akan kehilangan wibawa dan kemanusiaan. Manusia akan menjadi zalim, menindas orang, menipu, mementingkan diri, saling menjatuhkan, hasad dengki, pemarah, takabur, bakhil, pendendam dan lain-lain. Masyarakat tidak lagi berkasih sayang, bekerjasama, bertolak ansur dan saling tolong menolong. Sebaliknya masyarakat akan berebut dunia, krisis, bergaduh dan berperang. Peperangan antara suami isteri, anak dengan ibu bapaknya, murid dengan guru, buruh dengan majikan, rakyat dengan pemimpin dan lain-lain. Manusia hilang kemanusiaan. Manusia tidak berwatak manusia lagi, manusia telah berubah menjadi manusia berwatak syaitan dan hewan.

Allah SWT yang Maha Adil lagi Bijaksana, yang menciptakan manusia, tahu di mana kekuatan dan kelemahan manusia, tahu bagaimana menguatkan yang lemah, menyuburkan yang kuat, tahu sumber kekuatan dan kelemahan, telah memilih bulan Ramadhan untuk menjadi obat kepada penyakit setahun. Berpuasa dan ibadah-ibadah tambahan Ramadhan itu mampu menyelesaikan masalah-masalah selama setahun. Umpama mobil yang lemah setelah setahun digunakan, overhaul (turun mesin) sebulan cukup untuk sehat semula. Ya, Ramadhan datang untuk overhaul manusia supaya mendapatkan kemanusiaan lagi.

Sangat rugi bagi orang-orang yang gagal menjadikan ibadah Ramadhan untuk memperbaiki kemanusiaan mereka. Seperti ruginya orang yang diberi mobil tapi tidak pandai menggunakan atau salah menggunakannya.

Bagaimana Ramadhan Overhaul Hati Manusia?

Terdapat paket ibadah yang cukup hebat dan berkesan, kuat menguatkan satu sama lain, supaya manusia diperbaiki, dipulihkan sepanjang Ramadhan. Allahlah yang mempunyai paket ini. Maha pakar dalam merawat jiwa, fikiran dan fisik manusia supaya kembali suci sesuci fitrah semulanya. Paket itu ialah ibadah puasa, terawih, baca Quran, zikir, tasbih, paling asas atau dasar adalah mujahadah untuk melawan nafsu. Seseorang yang sanggup melakukan keseluruhan paket ibadah ini dengan serius dan penghayatan, sungguh akan memperoleh satu kekuatan roh, mental dan fisik untuk meneruskan perjuangan sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi. Membawa segala sifat-sifat baik seorang manusia seperti merendah diri, pemurah, berkasih-sayang terutama dengan orang miskin dan susah, tawakkal, sabar, tenang, adil, berbaik sangka, sanggup meminta maaf dan memberi maaf, bertolak ansur, jujur, mementingkan orang lain dan lain-lain. Kalau ada manusia yang begini dimuka bumi ini, ketahuilah pada merekalah Allah akan wariskan bumi ini untuk ditadbir atau diatur. Sebab Allah berjanji untuk menutup bumi ini dengan keadilan oleh orang-orang yang mereka itu sangat cinta kepada Allah dan Allah juga cinta kepada mereka.

Bagaimana Ibadah Memproses Ketaqwaan Manusia

Allah menciptakan manusia makhluk yang wajib berusaha dan berikhtiar untuk berhasil dalam apa juga bidangnya. Kejayaan tidak jadi sendiri kepada manusia. Manusia perlu bertarung, berjuang untuk kejayaan besar mereka. Nelayan mengarungi gelombang laut, petani melawan panas terik, ibu bertarung dengan kesusahan dalam melahirkan anak, bapak teruji dalam melakukan tanggung jawab pada keluarga, guru berhadapan dengan murid, pemimpin paling susah berhadapan dengan 1001 jenis kesusahan dalam kepimpinan. Untuk mengalahkan nafsu dan syaitan, Allah mewajibkan peperangan yang paling besar dan dasyat yang tidak dapat dilihat oleh mata karena bersifat rohani dan maknawi. Hanya orang yang mampu terlepas dari halangan-halangan nafsu saja yang layak mendapatkan taqwa. Ketaqwaan adalah gelar atau ukuran paling mulia untuk manusia menjadi sesempurna manusia. Tanpa taqwa, PhD, harta, pangkat tidak menjamin manusia dapat dikembalikan kepada kemuliaan yakni kemanusiaannya. Orang kaya, berpangkat dan berijazah tapi bertuhankan hawa nafsu akan menjadi sejahat-jahat manusia sedangkan dengan taqwa, orang miskin pun menjadi mulia apa lagi kalau orang kaya yang bertaqwa!

Sebab itulah ibadah paling asas dalam paket Ramadhan ialah mujahadah terhadap nafsu. Yakni usaha-usaha memaksa diri sendiri untuk melakukan perintah Allah dan meninggalkan larangannya. Mujahadah ialah sanggup menyiksa diri sendiri dalam usaha untuk menunaikan perintah-perintah Allah karena kebaikan yang diperintahkan bertentangan dengan kehendak nafsu liar dalam diri. Contoh, untuk berkasih sayang seperti yang Allah Taala perintahkan, seseorang sanggup menelan marahnya pada seseorang dengan penuh sabar. Menahan marah dan sabar itu sungguh menyiksa. Orang-orang yang tahu seluk beluknya saja yang dapat melakukannya dengan pertolongan Allah. Mujahadah memang menjemukan, nafsu benci dan meletihkan. Siapa sanggup tersiksa diatas cita-citanya, Hanyalah orang yang berjiwa besar. Sebab apabila letih fisik dapat istirahat, tetapi apabila perang dengan nafsu tidak dapat istirahat. Kalau istirahat nafsu akan manja dan mengada-ngada. Perang yang tidak pernah berhenti inilah dikatakan perang paling berat dan dasyat.

Terdapat tiga kunci yang Allah sediakan untuk mendorong mujahadah ini di Bulan Ramadhan yaitu:
1. Puasa yang dihayati
2. Sembahyang yang khusyuk
3. Baca Quran yang dijiwai

Abdul Muthalib & Sejarah Rasulullah SAW

Rasulullah SAW adalah manusia luar biasa, dia kekasih Tuhan, manusia yang paling dikasihi oleh Tuhan. Karena dialah dunia & akhirat diciptakan. Nabi Muhammad SAW manusia luar biasa, manusia agung, manusia istimewa, sebab itu supaya kita benar2 kenal nabi kita, bukan sekedar kenal, maka kita akan cungkil cerita-cerita tentangnya.

Karena Nabi Muhammad manusia luar biasa tentu sejarah hidupnya luar biasa. Bukan saja sejarah hidup beliau, tapi yang bersangkutan sejarah hidup beliau seperti salasilahnya, keturunannya, sebaiknya kita ambil perhatian, supaya terasa kita bahwa Rasulullah SAW itu besar & agung. Sebab itu Abuya ceritakan, untuk menyulam kuliah-kuliah Abuya sebelum ini tentang bagian dari keturunan Rasulullah SAW yang Tuhan ingatkan kita bersama. Semoga menjadi pengetahuan kita bersama. Abuya akan ceritakan sedikit tentang kakeknya yaitu Abdul Muthalib. Rasulullah SAW ini namanya Muhammad bin Abdulah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Manaf.

Mungkin cerita ini sudah ada pada pengetahuan kita, tapi dilupakan. Yang belum pernah mendengar menjadi satu pengetahuan baru bagi mereka.

Abdul Muthalib ini sebelum ada anak, dia pernah bernazar kepada Tuhan kalau dia dapat 10 anak lelaki dia akan sembelih seorang. Setelah berbelas-belas tahun menikah akhirnya mendapat 10 anak lelaki diantaranya Abu lahab, Sayidina Hamzah, Abu Thalib dan lain-lain. Tapi yang bungsunya Abdullah. Jadi ketika mendapat 10 anak laki-laki, dia pun teringat nazarnya, dia akan tunaikan nazarnya, menyembelih seorang. Ketika mau menyembelih salah satu, semuanya anak2 dia. Dia mengadukan hal ini kepada seorang ahli nujum di zaman itu, bagaimana cara menunaikan nazarnya? Ahli nujum memberi tahu dia, buat undian. siapa yang kena, itulah yang disembelih. Cara orang arab ini, walaupun hidup di zaman jahiliah, janji dipatuhi. Janji itu Abdul Muthalib terpaksa patuhi.

Setelah menerima nasehat dari ahli nujum, dia buat undian di kalangan anak-anaknya. Bila diundi kena kepada Abdullah, sedangkan ia anak yang paling disayangi, anak bungsu. Kemudian dia pergi bertanya lagi pada ahli nujum. Ahli nujum menyuruh mengundi lagi. Maka Abdul Muthalib membuat undian kedua, tapi kena pada Abdullah juga. Mengadu lagi, diundi lagi kena Abdullah lagi. Dia buat undian ke-9, ke-10 masih kena Abdullah. Mengadu lagi dia kepada ahli nujum, undian saya mengena pada anak yang paling saya sayang, yang paling ganteng. Ahli nujum menjawab, kalau begitu engkau menyembelih saja 100 unta untuk mengganti Abdullah. Akhirnya Abdullah selamat.

Demi mengingati pristiwa ini, ketika Rasulullah SAW menjadi rasul, salah satu syariat Rasulullah SAW yaitu siapa membunuh orang, tebusannya menyembelih 100 unta. Jadi ada syariat dalam jahiliah yang dikekalkan oleh Tuhan, diantaranya siapa yang buat dosa membunuh orang, dia mesti menebus dengan menyembelih 100 unta. Kekal sampai hari ini. Selamatlah Abdullah daridisembelih. Diantara 10 anak lelaki ini Abdullah yang paling disayang bapanya Abdul muthalib. Tapi karena Abdullah ini akan melahirkan zuriat yaitu nabi akhir zaman, Tuhan memberi tanda di dahinya keluar cahaya, sejak kanak-kanak lagi. Terutama waktu malam, ketika dia pergi semua orang melihat cahaya di dahi Abdullah, mereka berkata, Abdullah datang, sebab mana ada orang bercahaya di dahi. Tapi tidak ada yang tahu cahaya itu cahaya apa.

Rupanya di kalangan ramai ni ada 1 orang yang tahu. Ada dua pendapat, dia dapat dari mimpi dan ahli nujum. Yang tahu adalah seorang perempuan namanya Fatimah Syam. Dia tahu bahwa orang yang bercahaya di dahi itu akan melahirkan nabi akhir zaman. Maka dia jatuh hati kepada Abdullah. Dia mencoba memikat Abdullah. Kalau dalam bahasa sekarang dia menggaet Abdullah sebab dia tahu dari Abdullah ini akan lahir seorang nabi. dia bujuk, dia rayu dia ajak kawin, tapi Abdullah tidak mau. Akhirnya Abdullah dipinang oleh Siti Aminah dan Abdullah mau. Maka lahirlah dari Abdullah, Muhammad, ibunya Aminah.

Tapi Nabi Muhammad SAW tidak sempat melihat ayahnya. Waktu baru 2 bulan dalam kandungan, Abdullah pergi menziarahi keluarganya, dia meninggal di tengah perjalanan. Ibunya tidak terasa hingga ke 9 bulan, sebab tidak ada tanda atau kesan. Cuma setiap malam mimpi bertemu perempuan2 mulia seperti Siti Asyiah Masyitoh dan lain-lain yang memberitahu dia, Hai Aminah bertuahlah engkau, engkau akan melahirkan anak yang menjadi nabi akhir zaman. Iya kah, aku tidak mengandung kata Aminah. Hampir setiap malam, dia mimpi. Kata-kata itu diulang, Hai Aminah bertuahnya engkau, karena akan melahirkan nabi akhir zaman. Aminah heran, sebab mimpi & realita tidak sama sebab dia fikir dia tidak mengandung. Rupanya ketika 9 bulan lahir anak, pada tanggal 12 rabiul awal tahungajah.

Waktu lahir, dia tidak seperti anak-anak lain lahir, kalau anak-anak lain ibunya merasa sakit, keluar darah. Ini bersih dan bagus.Anak-anak lain ketika keluar menangis, dia tidak menangis.

Selepas Rasulullah SAW menjadi rasul selain perang ada 2 pristiwa yang sangat menakutkan.

Setelah Rasulullah SAW diterima orang banyak, pengaruh Rasulullah SAW sudah mulai ada, kata-kata Rasulullah SAW ada orang yang tidak faham, sebab Rasulullah SAW menyebut akhirat, Tuhan, syurga. Jadi banyak orang marah. Di antara yang marah itu pembesar-pembesar Quraisy. Akhirnya mereka mengambil keputusan, Rasulullah SAW di kurung di Bani Said. Setiap jalan ke Bani Said disekat hingga makanan tidak sampai & tidak dibenarkan siapapun menyampaikan makanan. Kemudian orang arab jahiliah ni membuat satu perjanjian yang ditulis di atas kulit. Selagi perjanjian ini kekal, selama itu Rasulullah SAW di kurung. Perjanjian itu digantung di ka'bah. Kalau ikut logika, tulisan itu kekal sampai mati. Rupanya selepas Rasulullah SAW dikurungkan 3 tahun, tulisan itu dimakan oleh anai-anai. Abuya sudah katakan tadi, orang arab ini walau jahiliah, tapi dia menunaikan janji. Maka dia lepaskan Rasulullah SAW.

Peristiwa ke-2 adalah setelah pengikut Rasulullah besar, ramai, pembesar-pembesar arab berkumpul di Darun Nadwah, satu dewan besar. Mereka berunding bagaimana menghilangkan Rasulullah SAW. Bila dimusyawaratkan akhirnya diambi keputusan di Darun Nadwah itu untuk membunuh Rasulullah SAW. Tapi yang membunuhnya bukan seorang, dibunuh oleh wakil-wakil kaum. Karena mereka berfikir, kalau semua kaum terlibat membunuh, tidak ada keluarga yang menuntut, semua kaum terlibat dalam membunuh.

Tapi kesepakatan ini diketahui oleh Rasulullah SAW. Suatu malam Rasulullah SAW & Sayidina Ali keluar rumah & bermalam di satu rumah. Pada malam itu Rasulullah SAW berpesan pd Sayidina Ali, kamu tidur di tempat saya supaya orang menyangka saya yang tidur disitu, sedangkan semua wakil kaum berada di sekeliling rumah itu.

Saat Sayidina Ali berada di rumah itu, mereka menyangka itu Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW meninggalkan rumah itu. Waktu dia keluar rumah, Rasulullah SAW ambil pasir, dia baca ayat & ditaburkan kepada semuanya sehingga semua tidur senyenyak-nyenyaknya. Ketika mereka terbangun, mereka terkejut, kita semua tidur, jangan-jangan Muhammad sudah pergi. Akhirnya mereka menyerbu ke rumah, tapi yang tidur adalah Sayidina Ali, anak-anak. Maka mereka pun memburu Rasulullah SAW, meninggalkan Sayidina Ali. Di sini satu hikmah, ada benda tersirat.

Yang pertama, melihatkan kepada kita bahwa Sayidina Ali dari budak lagi sudah berani. Kalau anak-anak kita, kalau tahu orang akan bunuh kita, ayahnya berpesan engkau tidur tempat ayah, ayah mau lari, tentu dia mengatakan, tidak mau, saya mau ikut ayah. Tapi bila dipesan Rasulullah SAW, Sayidina Ali tahu orang mau membunuh Rasulullah SAW, dia sanggup menggantikan. Di sini memperlihatkan betapa di waktu kecil Sayidina Ali sudah pemberani.

Yang ke-2, kalau kita tidak pandai mencungkil hikmahnya, kita anggap Rasulullah SAW zalim. Dia mau melepaskan diri, anak-anak yang menggantikan dia. Ini tidak bertanggung jawab. Begitulah ulasan orang yahudi & orang2 Islam yang berpenyakit. Sebenarnya Rasulullah SAW sangat bijak, waktu dua orang berhadapan dengan bahaya, satu orang penting satu kurang penting, tentulah yang tidak penting sanggup berkorban, yang tidak penting dikorbankan. Rasulullah SAW untuk umum, kalau mati Sayidina Ali tidak apa-apa, dia bukan rasul. Ini mengajar umat Islam sepanjang masa, kalau satu perjuangan yang hak, kalau terjadi akan dibunuh seorang, siapa yang penting siapa yang tak penting, kalau mesti mati satu orang, atas dasar strategi, yang tidak penting itu yang dikorbankan. Yang penting mesti diselamatkan karena dia penting untuk manusia. Itu bukan satu sikap yang tidak bertanggung jawab, tapi satu kebijaksanaan.

Bila Rasulullah SAW sudah keluar malam tu. dia sudah berjanji dengan Sayidina Abu Bakar untuk keluar bersama. Kemudian Rasulullah SAW memberitahu Asma, anak Sayidina Abu Bakar, untuk menjadi spy. Mengapa Rasulullah SAW memilih perempuan tidak memilih lelaki? Orang jahiliah tidakkan terfikir yang akan dijadikan spy itu perempuan. Perempuan penakut, tidak akan orang penakut dijadikan spy. Di sini bijaknya Rasulullah SAW, sepatutnya laki-laki jadi spy, tapi perempuan dijadikan spy supaya orang tidak menyangka.

Di sini Rasulullah SAW mengajar kita bahwa dalam satu perjuangan di suatu waktu boleh jadikan perempuan spy, atau boleh menggunakan perempuan untuk menguasai suatu bidang kalau diperlukan. dia bukan terkungkung saja. Di zaman Rasulullah SAW perempuan boleh menjadi spy. Sebab itu di zaman moderen ini, musuh-musuh islam banyak menjadikan kaum ibu menjadi spy supaya kaum ibu dapat memerangkap musuh. Musuh akan diperangkap dengan kaum wanita. Tapi Islam menjadikan perempuan supaya orang tidak terpikir, perempuan menjadi spy atau dia tidak pikir dia perangkap musuh. Tapi orang-orang kafir & yang tidak ikut syariat, dia menggunakan perempuan untuk perangkap musuh, perangkap lelaki. Itulah hikmahnya.

Kalau kita tidak mengulas sejarah, orang akan katakan tidak sepatutnya anak-anak seperti Sayidina Ali menggantikan tempat Rasulullah SAW. Kalau tidak dijadikan Asma sebagai spy, seolah-olah orang Islam yang fanatik dengan agama, perempuan tidak ada peranan. Sebenarnya dalam Islam, dalam di sesuatu bagian perempuan dapat berperanan seperti menjadi spy, tetapi mesti mengikuti syariat Islam.
Sekian.